The Animals Sick of the Plague
A free B2-level English story for language learners, readable online in 7 languages, with an option to listen via the free Storyteller app.
A plague strikes the animal kingdom, and when the lion calls for a sacrifice, the powerful animals cleverly evade blame while the weakest ass is condemned.
One of those dread evils which spread terror far and wide, and which Heaven, in its anger, ordains for the punishment of wickedness upon earth—a plague in fact; and so dire a one as to make rich in one day that grim ferryman who takes a coin from all who cross the river Acheron to the land of the dead—such a plague was once waging war against the animals.
Salah satu bencana mengerikan yang menebarkan teror di mana-mana, yang oleh Surga, dalam murkanya, ditetapkan sebagai hukuman atas kejahatan di dunia—wabah penyakit, sesungguhnya; dan begitu dahsyatnya hingga dalam sehari saja membuat kaya raya tukang perahu kelam itu yang memungut satu keping uang dari setiap orang yang menyeberangi sungai Acheron menuju negeri orang mati—wabah semacam itulah yang pernah melancarkan perang melawan para binatang.
All were attacked, although all did not die. So hopeless was the case that not one of them attempted to sustain their sinking lives. Even the sight of food did not rouse them. Wolves and foxes no longer turned eager and calculating eyes upon their gentle and guileless prey. The turtle-doves went no more in cooing pairs, but were content to avoid each other. Love and the joy that comes of love were both at an end.
Semua terserang, meski tidak semua mati. Begitu putus asa keadaannya sehingga tak seekor pun dari mereka berusaha mempertahankan hidupnya yang kian meredup. Bahkan melihat makanan pun tak lagi menggugah selera mereka. Serigala dan rubah tak lagi memandang mangsa mereka yang lembut dan tak berdaya dengan mata yang berhasrat dan penuh perhitungan. Burung tekukur tak lagi berjalan berpasang-pasangan sambil berdekut, melainkan puas untuk saling menghindar. Cinta dan kebahagiaan yang lahir darinya, keduanya telah berakhir.
At length the lion called a council of all the beasts and addressed them in these words: "My dear friends, it seems to me that it is for our sins that Heaven has permitted this misfortune to fall upon us. Would it not be well if the most blameworthy among us allowed himself to be offered as a sacrifice to appease the celestial wrath? By so doing he might secure our recovery. History tells us that this course is usually pursued in such cases as ours.
Akhirnya sang singa memanggil dewan seluruh binatang dan berpidato dengan kata-kata ini: "Sahabat-sahabatku terkasih, tampaknya bagiku karena dosa-dosa kitalah Surga mengizinkan malapetaka ini menimpa kita. Bukankah baik jika yang paling bersalah di antara kita membiarkan dirinya dipersembahkan sebagai kurban untuk meredakan murka langit? Dengan berbuat demikian ia mungkin dapat menjamin kesembuhan kita. Sejarah mengajarkan bahwa cara inilah yang biasa ditempuh dalam keadaan seperti kita.
Let us look into our consciences without self-deception or condoning. For my own part, I freely admit that in order to satisfy my gluttony I have devoured an appalling number of sheep; and yet what had they done to me to deserve such a fate? Nothing that could be called an offence. Sometimes, indeed, I have gone so far as to eat the shepherd too!
Marilah kita periksa hati nurani kita tanpa menipu diri atau memaafkan diri sendiri. Bagi diriku sendiri, aku dengan bebas mengakui bahwa demi memuaskan kerakusanku aku telah melahap sejumlah domba yang mengerikan banyaknya; padahal apa salah mereka padaku hingga pantas menerima nasib semacam itu? Tak ada yang bisa disebut pelanggaran. Bahkan, terkadang aku sampai memakan sang gembala juga!
On the whole, I think I had better render myself for this act of sacrifice; that is, if we agree that it is a thing necessary to the general good. And yet I think it would be only fair that every one should declare his sins as well as I; for I could wish that, in justice, it were the most culpable that should perish."
Secara keseluruhan, kurasa sebaiknya aku menyerahkan diri untuk kurban ini; artinya, jika kita sepakat bahwa itu adalah hal yang perlu demi kebaikan bersama. Namun kurasa akan lebih adil jika setiap orang mengakui dosanya sepertiku juga; sebab aku ingin, demi keadilan, agar yang paling bersalahlah yang binasa."
"Sire," said the fox, "you are really too yielding for a king, and your scruples show too much delicacy of feeling. Eating sheep indeed! What of that?—a foolish and rascally tribe! Is that a crime? No! a hundred times no! On the contrary your noble jaws did but do them great honour.
"Baginda," kata sang rubah, "Anda sungguh terlalu lunak untuk seorang raja, dan keberatan hati Anda menunjukkan kepekaan perasaan yang berlebihan. Memakan domba, katanya! Apa salahnya itu?—suku yang bodoh dan curang! Apakah itu kejahatan? Tidak! Seratus kali tidak! Sebaliknya, rahang mulia Anda justru memberi mereka kehormatan besar.
As for the shepherd, it may be fairly said that all the harm he got he merited, since he was one of those who fancy they have dominion over the animal kingdom." Thus spake the fox and every other flatterer in the assembly applauded him. Nor did any seek to inquire deeply into the least pardonable offences of the tiger, the bear, and the other mighty ones. All those of an aggressive nature, right down to the simple watch-dog, were something like saints in their own opinions.
Adapun sang gembala, boleh dikatakan dengan adil bahwa segala derita yang menimpanya memang pantas ia terima, sebab ia termasuk mereka yang mengira memiliki kekuasaan atas kerajaan binatang." Demikianlah kata sang rubah, dan setiap penjilat lain di dalam pertemuan itu bertepuk tangan memujinya. Tak seorang pun juga berusaha menyelidiki lebih dalam pelanggaran-pelanggaran yang paling tak termaafkan dari harimau, beruang, dan makhluk-makhluk perkasa lainnya. Semua yang bersifat agresif, sampai ke anjing penjaga yang sederhana sekalipun, merasa dirinya seperti orang-orang suci menurut pendapat mereka sendiri.
When the ass stood forth in his turn he struck a different note: nothing of fangs and talons and blood. "I remember," he said, "that once in passing a field belonging to a monastery I was urged by hunger, by opportunity, by the tenderness of the grass, and perhaps by the evil one egging me on, to enter and crop just a taste, about as much as the length of my tongue. I know that I did wrong, having really no right there."
Ketika sang keledai maju gilirannya, ia mengucapkan nada yang berbeda: tak ada soal taring, cakar, ataupun darah. "Aku ingat," katanya, "bahwa suatu kali ketika lewat di sebuah ladang milik biara, aku terdorong oleh lapar, oleh kesempatan, oleh lembutnya rumput, dan mungkin juga oleh bujukan si jahat, untuk masuk dan mencicipi sedikit saja, sepanjang lidahku kira-kira. Aku tahu aku berbuat salah, sebab sesungguhnya aku tak punya hak di sana."
At these words all the assembly turned upon him. The wolf took upon himself to make a speech proving without doubt that the ass was an accursed wretch, a mangy brute, who certainly ought to be told off for sacrifice, since through his wickedness all their misfortunes had come about. His peccadillo was judged to be a hanging matter. "What! eat the grass belonging to another? How abominable a crime! Nothing but death could expiate such an outrage!" And forthwith they proved as much to the poor ass.
Mendengar kata-kata ini seluruh pertemuan berbalik menyerangnya. Sang serigala mengambil alih untuk berpidato membuktikan tanpa keraguan bahwa keledai itu adalah makhluk terkutuk, binatang berkudis, yang sudah sepantasnya ditunjuk untuk dikorbankan, sebab melalui kejahatannyalah segala malapetaka mereka bermula. Kesalahan kecilnya dinilai sebagai perkara yang layak digantung. "Apa! memakan rumput milik orang lain? Betapa kejinya kejahatan itu! Tak ada selain kematian yang bisa menebus penghinaan semacam itu!" Dan seketika itu juga mereka membuktikan hal tersebut kepada keledai yang malang itu.
Accordingly as your power is great or small, the judgments of a court will whiten or blacken your reputation.
Sesuai besar atau kecilnya kekuasaanmu, begitulah putusan pengadilan akan memutihkan atau menghitamkan namamu.