Storyteller

The Elves and the Shoemaker

A free B2-level English story for language learners, readable online in 7 languages, with an option to listen via the free Storyteller app.

Level
B2
Genres
fairy-tale
Reading time
4 min
Languages available
EN, VI, ES, ZH, PT, HI, ID
The Elves and the Shoemaker cover

A poor shoemaker and his wife are helped by two little elves who secretly finish his shoes every night.

There was once a shoemaker, who worked very hard and was very honest: but still he could not earn enough to live upon; and at last all he had in the world was gone, save just leather enough to make one pair of shoes.

Dahulu kala hiduplah seorang tukang sepatu, yang bekerja sangat keras dan sangat jujur: tetapi ia tetap tak sanggup memperoleh cukup penghasilan untuk hidup; dan akhirnya segala yang ia miliki di dunia ini telah lenyap, tersisa hanya kulit yang cukup untuk membuat sepasang sepatu saja.

Then he cut his leather out, all ready to make up the next day, meaning to rise early in the morning to his work. His conscience was clear and his heart light amidst all his troubles; so he went peaceably to bed, left all his cares to Heaven, and soon fell asleep. In the morning after he had said his prayers, he sat himself down to his work; when, to his great wonder, there stood the shoes all ready made, upon the table.

Maka ia memotong kulit itu, siap untuk dijahit keesokan harinya, berniat bangun pagi-pagi untuk mengerjakannya. Hati nuraninya bersih dan hatinya ringan di tengah segala kesusahannya; maka ia pergi tidur dengan tenang, menyerahkan segala kekhawatirannya kepada Tuhan, dan segera tertidur lelap. Keesokan paginya setelah ia berdoa, ia duduk untuk mulai bekerja; ketika, dengan sangat terheran-heran, ternyata sepatu-sepatu itu sudah berdiri jadi, tersusun rapi di atas meja.

The good man knew not what to say or think at such an odd thing happening. He looked at the workmanship; there was not one false stitch in the whole job; all was so neat and true, that it was quite a masterpiece.

Pria baik itu tak tahu harus berkata atau berpikir apa menghadapi kejadian aneh semacam itu. Ia memeriksa hasil kerjanya; tak ada satu pun jahitan yang salah dalam seluruh pekerjaan itu; semuanya begitu rapi dan sempurna, sehingga itu benar-benar sebuah mahakarya.

The same day a customer came in, and the shoes suited him so well that he willingly paid a price higher than usual for them; and the poor shoemaker, with the money, bought leather enough to make two pairs more. In the evening he cut out the work, and went to bed early, that he might get up and begin betimes next day; but he was saved all the trouble, for when he got up in the morning the work was done ready to his hand.

Pada hari yang sama seorang pembeli datang, dan sepatu itu begitu cocok baginya hingga ia dengan senang hati membayar harga yang lebih tinggi dari biasanya untuknya; dan tukang sepatu yang malang itu, dengan uang tersebut, membeli kulit yang cukup untuk membuat dua pasang sepatu lagi. Malam harinya ia memotong bahan itu, dan pergi tidur lebih awal, agar bisa bangun dan mulai bekerja lebih cepat keesokan harinya; tetapi ia terhindar dari segala kerepotan itu, sebab ketika ia bangun pagi hari pekerjaan itu sudah selesai menanti tangannya.

Soon in came buyers, who paid him handsomely for his goods, so that he bought leather enough for four pair more. He cut out the work again overnight and found it done in the morning, as before; and so it went on for some time: what was got ready in the evening was always done by daybreak, and the good man soon became thriving and well off again.

Segera datanglah pembeli-pembeli lain, yang membayarnya dengan sangat baik untuk barang dagangannya, sehingga ia membeli kulit yang cukup untuk empat pasang sepatu lagi. Ia memotong bahan itu lagi pada malam harinya dan mendapatinya sudah selesai keesokan paginya, seperti sebelumnya; dan demikianlah berlangsung selama beberapa waktu: apa yang disiapkan pada malam hari selalu selesai menjelang fajar, dan pria baik itu pun segera menjadi makmur dan berkecukupan kembali.

One evening, about Christmas-time, as he and his wife were sitting over the fire chatting together, he said to her, ‘I should like to sit up and watch tonight, that we may see who it is that comes and does my work for me.’ The wife liked the thought; so they left a light burning, and hid themselves in a corner of the room, behind a curtain that was hung up there, and watched what would happen.

Suatu malam, menjelang waktu Natal, ketika ia dan istrinya duduk mengobrol di dekat perapian, ia berkata kepada istrinya, 'Aku ingin duduk berjaga dan mengintai malam ini, agar kita bisa melihat siapa gerangan yang datang dan mengerjakan pekerjaanku untukku.' Sang istri menyukai gagasan itu; maka mereka membiarkan sebuah lampu tetap menyala, dan bersembunyi di sudut ruangan, di balik tirai yang tergantung di sana, dan mengamati apa yang akan terjadi.

As soon as it was midnight, there came in two little naked dwarfs; and they sat themselves upon the shoemaker’s bench, took up all the work that was cut out, and began to ply with their little fingers, stitching and rapping and tapping away at such a rate, that the shoemaker was all wonder, and could not take his eyes off them. And on they went, till the job was quite done, and the shoes stood ready for use upon the table. This was long before daybreak; and then they bustled away as quick as lightning.

Begitu tengah malam tiba, masuklah dua kurcaci kecil yang telanjang; dan mereka duduk di bangku kerja tukang sepatu itu, mengambil seluruh pekerjaan yang telah dipotong, dan mulai bekerja dengan jari-jari kecil mereka, menjahit dan mengetuk-ngetuk serta mengetok dengan begitu cepatnya, sehingga tukang sepatu itu terheran-heran penuh dan tak bisa mengalihkan matanya dari mereka. Dan begitu terus mereka bekerja, hingga pekerjaan itu selesai sepenuhnya, dan sepatu-sepatu itu berdiri siap dipakai di atas meja. Ini terjadi jauh sebelum fajar; dan kemudian mereka bergegas pergi secepat kilat.

The next day the wife said to the shoemaker. ‘These little wights have made us rich, and we ought to be thankful to them, and do them a good turn if we can. I am quite sorry to see them run about as they do; and indeed it is not very decent, for they have nothing upon their backs to keep off the cold. I’ll tell you what, I will make each of them a shirt, and a coat and waistcoat, and a pair of pantaloons into the bargain; and do you make each of them a little pair of shoes.’

Keesokan harinya sang istri berkata kepada tukang sepatu itu. 'Makhluk-makhluk kecil ini telah membuat kita kaya, dan sudah sepatutnya kita berterima kasih kepada mereka, dan berbuat baik kepada mereka jika kita bisa. Aku sungguh kasihan melihat mereka berlari-lari begitu saja; dan memang tidak pantas, sebab mereka tak punya apa-apa di punggung mereka untuk menghangatkan diri dari dingin. Begini saja, aku akan membuatkan masing-masing mereka sehelai kemeja, dan jas serta rompi, dan sepasang celana panjang sekalian; dan kau buatkan masing-masing mereka sepasang sepatu kecil.'

The thought pleased the good cobbler very much; and one evening, when all the things were ready, they laid them on the table, instead of the work that they used to cut out, and then went and hid themselves, to watch what the little elves would do.

Gagasan itu sangat menyenangkan hati tukang sepatu yang baik itu; dan pada suatu malam, ketika semua barang telah siap, mereka meletakkannya di atas meja, menggantikan pekerjaan yang biasa mereka potong, lalu pergi bersembunyi lagi, untuk mengamati apa yang akan dilakukan para peri kecil itu.

About midnight in they came, dancing and skipping, hopped round the room, and then went to sit down to their work as usual; but when they saw the clothes lying for them, they laughed and chuckled, and seemed mightily delighted.

Menjelang tengah malam mereka datang, menari dan melompat-lompat, berjingkrak mengelilingi ruangan, lalu duduk untuk mulai bekerja seperti biasa; tetapi ketika mereka melihat pakaian yang tergeletak untuk mereka, mereka tertawa dan terkekeh, dan tampak sangat gembira.

Then they dressed themselves in the twinkling of an eye, and danced and capered and sprang about, as merry as could be; till at last they danced out at the door, and away over the green.

Lalu mereka mengenakan pakaian itu dalam sekejap mata, dan menari serta melompat-lompat dan berjingkrak kian kemari, riang gembira sekali; sampai akhirnya mereka menari keluar pintu, dan pergi melintasi padang rumput hijau.

The good couple saw them no more; but everything went well with them from that time forward, as long as they lived.

Pasangan baik hati itu tak pernah melihat mereka lagi; tetapi segalanya berjalan lancar bagi mereka sejak saat itu, selama mereka hidup.

Open in the Storyteller app Get it on Google Play