The Glass Coffin
A free C1-level English story for language learners, readable online in 7 languages, with an option to listen via the free Storyteller app.
Lost in a forest, a poor tailor is carried off by a magic stag into an underground world — where a princess trapped in a glass coffin needs a stranger's help to break a sorcerer's curse.
Let no one ever say that a poor tailor cannot do great things and win high honors; all that is needed is that he should go to the right smithy, and what is of most consequence, that he should have good luck. A civil, adroit tailor’s apprentice once went out travelling, and came into a great forest, and, as he did not know the way, he lost himself. Night fell, and nothing was left for him to do, but to seek a bed in this painful solitude.
Jangan sampai ada yang berkata bahwa seorang penjahit miskin tak bisa melakukan hal-hal besar dan meraih kehormatan tinggi; yang dibutuhkan hanyalah ia pergi ke bengkel yang tepat, dan yang paling penting, ia harus memiliki keberuntungan yang baik. Suatu kali seorang murid penjahit yang santun dan cekatan pergi mengembara, dan tiba di sebuah hutan besar, dan, karena ia tak tahu jalan, ia tersesat. Malam pun tiba, dan tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain mencari tempat tidur dalam kesunyian yang menyiksa ini.
He might certainly have found a good bed on the soft moss, but the fear of wild beasts let him have no rest there, and at last he was forced to make up his mind to spend the night in a tree. He sought out a high oak, climbed up to the top of it, and thanked God that he had his goose with him, for otherwise the wind which blew over the top of the tree would have carried him away.
Sebetulnya ia bisa saja menemukan tempat tidur yang baik di atas lumut yang lembut, tetapi rasa takut akan binatang buas tak membiarkannya beristirahat di sana, dan akhirnya ia terpaksa memutuskan untuk menghabiskan malam itu di atas sebatang pohon. Ia mencari sebatang pohon ek yang tinggi, memanjat sampai ke puncaknya, dan bersyukur kepada Tuhan bahwa ia membawa serta angsanya, sebab jika tidak, angin yang bertiup di puncak pohon itu pasti sudah menerbangkannya.
After he had spent some hours in the darkness, not without fear and trembling, he saw at a very short distance the glimmer of a light, and as he thought that a human habitation might be there, where he would be better off than on the branches of a tree, he got carefully down and went towards the light. It guided him to a small hut that was woven together of reeds and rushes.
Setelah ia menghabiskan beberapa jam dalam kegelapan, tak lepas dari rasa takut dan gemetar, ia melihat pada jarak yang sangat dekat kelip sebuah cahaya, dan karena ia mengira mungkin ada tempat tinggal manusia di sana, tempat yang lebih baik daripada di atas dahan-dahan pohon, ia pun turun dengan hati-hati dan berjalan menuju cahaya itu. Cahaya itu menuntunnya ke sebuah pondok kecil yang dianyam dari alang-alang dan gelagah.
He knocked boldly, the door opened, and by the light which came forth he saw a little hoary old man who wore a coat made of bits of colored stuff sewn together. “Who are you, and what do you want?” asked the man in a grumbling voice. “I am a poor tailor,” he answered, “whom night has surprised here in the wilderness, and I earnestly beg you to take me into your hut until morning.”
Ia mengetuk dengan berani, pintu pun terbuka, dan dari cahaya yang keluar ia melihat seorang lelaki tua kecil beruban yang mengenakan mantel yang terbuat dari potongan-potongan kain berwarna-warni yang dijahit bersama. “Siapa kau, dan apa maumu?” tanya lelaki itu dengan suara menggerutu. “Aku seorang penjahit miskin,” jawabnya, “yang terkejut oleh malam di sini di tengah belantara ini, dan aku memohon dengan sungguh-sungguh agar kau mengizinkanku masuk ke pondokmu hingga pagi.”
“Go your way,” replied the old man in a surly voice, “I will have nothing to do with runagates; seek for yourself a shelter elsewhere.” After these words he was about to slip into his hut again, but the tailor held him so tightly by the corner of his coat, and pleaded so piteously, that the old man, who was not so ill-natured as he wished to appear, was at last softened, and took him into the hut with him where he gave him something to eat, and then pointed out to him a very good bed in a corner.
“Pergilah,” jawab lelaki tua itu dengan suara ketus, “aku tak mau berurusan dengan para pengembara buronan; carilah tempat berteduh sendiri di tempat lain.” Setelah kata-kata ini ia hendak menyelinap masuk kembali ke pondoknya, tetapi si penjahit memegang erat sudut mantelnya, dan memohon dengan begitu memelas, sehingga lelaki tua itu, yang sebenarnya tak seburuk sifat yang ingin ia tunjukkan, akhirnya luluh, dan membawanya masuk ke pondok bersamanya, tempat ia memberinya sesuatu untuk dimakan, lalu menunjukkan padanya sebuah tempat tidur yang cukup baik di sebuah sudut.
The weary tailor needed no rocking; but slept sweetly till morning, but even then would not have thought of getting up, if he had not been aroused by a great noise. A violent sound of screaming and roaring forced its way through the thin walls of the hut. The tailor, full of unwonted courage, jumped up, put his clothes on in haste, and hurried out.
Si penjahit yang letih tak butuh diayun-ayun; ia tertidur nyenyak hingga pagi, bahkan mungkin tak akan terpikir untuk bangun, seandainya ia tak dikejutkan oleh suara gaduh yang keras. Suara jeritan dan raungan yang keras menerobos masuk melalui dinding tipis pondok itu. Si penjahit, dipenuhi keberanian yang tak biasa, melompat bangun, mengenakan pakaiannya dengan tergesa, dan bergegas keluar.
Then close by the hut, he saw a great black bull and a beautiful stag, which were just preparing for a violent struggle. They rushed at each other with such extreme rage that the ground shook with their trampling, and the air resounded with their cries. For a long time it was uncertain which of the two would gain the victory; at length the stag thrust his horns into his adversary’s body, whereupon the bull fell to the earth with a terrific roar, and was thoroughly despatched by a few strokes from the stag.
Lalu di dekat pondok itu, ia melihat seekor banteng hitam besar dan seekor rusa jantan yang tampan, yang sedang bersiap untuk sebuah perkelahian sengit. Mereka menyerbu satu sama lain dengan amarah yang begitu dahsyat sehingga tanah bergetar karena hentakan kaki mereka, dan udara bergema dengan lolongan mereka. Untuk waktu yang lama tak jelas siapa yang akan menang; akhirnya sang rusa menusukkan tanduknya ke tubuh lawannya, membuat sang banteng roboh ke tanah dengan raungan yang mengerikan, dan segera dihabisi dengan beberapa tandukan dari sang rusa.
The tailor, who had watched the fight with astonishment, was still standing there motionless, when the stag in full career bounded up to him, and before he could escape, caught him up on his great horns. He had not much time to collect his thoughts, for it went in a swift race over stock and stone, mountain and valley, wood and meadow. He held with both hands to the tops of the horns, and resigned himself to his fate. It seemed, however, to him just as if he were flying away.
Si penjahit, yang telah menyaksikan pertarungan itu dengan takjub, masih berdiri di sana tanpa bergerak, ketika sang rusa dalam kecepatan penuh melompat ke arahnya, dan sebelum ia sempat melarikan diri, mengaitkannya ke tanduknya yang besar. Ia tak punya banyak waktu untuk mengumpulkan pikirannya, sebab sang rusa berlari kencang melintasi batang pohon dan bebatuan, gunung dan lembah, hutan dan padang rumput. Ia berpegangan dengan kedua tangan pada ujung tanduk itu, dan pasrah pada nasibnya. Namun terasa baginya seolah-olah ia sedang terbang menjauh.
At length the stag stopped in front of a wall of rock, and gently let the tailor down. The tailor, more dead than alive, required a longer time than that to come to himself. When he had in some degree recovered, the stag, which had remained standing by him, pushed its horns with such force against a door which was in the rock, that it sprang open. Flames of fire shot forth, after which followed a great smoke, which hid the stag from his sight.
Akhirnya sang rusa berhenti di depan sebuah dinding batu, dan dengan lembut menurunkan si penjahit. Si penjahit, yang lebih mirip mayat daripada orang hidup, membutuhkan waktu lebih lama dari itu untuk menyadarkan dirinya. Ketika ia sudah agak pulih, sang rusa, yang masih berdiri di sampingnya, mendorongkan tanduknya dengan kekuatan sedemikian rupa ke sebuah pintu yang ada di batu itu, sehingga pintu itu terbuka lebar. Nyala api menyembur keluar, diikuti oleh asap tebal, yang menyembunyikan sang rusa dari pandangannya.
The tailor did not know what to do, or whither to turn, in order to get out of this desert and back to human beings again. Whilst he was standing thus undecided, a voice sounded out of the rock, which cried to him, “Enter without fear, no evil shall befall thee.” He hesitated, but driven by a mysterious force, he obeyed the voice and went through the iron-door into a large spacious hall, whose ceiling, walls and floor were made of shining polished square stones, on each of which were cut letters which were unknown to him.
Si penjahit tak tahu harus berbuat apa, atau ke mana harus pergi, agar bisa keluar dari padang tandus ini dan kembali ke tengah manusia. Sementara ia berdiri dalam kebimbangan seperti itu, sebuah suara terdengar dari dalam batu, yang berseru kepadanya, “Masuklah tanpa takut, tak ada kejahatan yang akan menimpamu.” Ia ragu, tetapi didorong oleh sebuah kekuatan misterius, ia menuruti suara itu dan melewati pintu besi menuju sebuah aula luas, yang langit-langit, dinding, dan lantainya terbuat dari batu-batu persegi yang mengilap, yang masing-masing terukir huruf-huruf yang tak ia kenal.
He looked at everything full of admiration, and was on the point of going out again, when he once more heard the voice which said to him, “Step on the stone which lies in the middle of the hall, and great good fortune awaits thee.”
Ia memandangi segalanya penuh kekaguman, dan hampir hendak keluar lagi, ketika sekali lagi ia mendengar suara itu berkata kepadanya, “Berdirilah di atas batu yang ada di tengah aula ini, dan keberuntungan besar menantimu.”
His courage had already grown so great that he obeyed the order. The stone began to give way under his feet, and sank slowly down into the depths. When it was once more firm, and the tailor looked round, he found himself in a hall which in size resembled the former. Here, however, there was more to look at and to admire.
Keberaniannya sudah tumbuh begitu besar sehingga ia menuruti perintah itu. Batu itu mulai bergerak turun di bawah kakinya, dan tenggelam perlahan ke dalam kedalaman. Ketika batu itu kembali kokoh, dan si penjahit melihat sekeliling, ia mendapati dirinya berada di sebuah aula yang ukurannya menyerupai aula sebelumnya. Namun di sini, ada lebih banyak lagi yang bisa dilihat dan dikagumi.
Hollow places were cut in the walls, in which stood vases of transparent glass which were filled with colored spirit or with a bluish vapour. On the floor of the hall two great glass chests stood opposite to each other, which at once excited his curiosity. When he went to one of them he saw inside it a handsome structure like a castle surrounded by farm-buildings, stables and barns, and a quantity of other good things. Everything was small, but exceedingly carefully and delicately made, and seemed to be cut out by a dexterous hand with the greatest exactitude.
Ada relung-relung yang dipahat di dinding, tempat berdiri guci-guci kaca transparan yang diisi dengan cairan berwarna atau uap kebiruan. Di lantai aula itu berdiri dua peti kaca besar yang saling berhadapan, yang segera membangkitkan rasa penasarannya. Ketika ia mendekati salah satunya ia melihat di dalamnya sebuah bangunan indah seperti sebuah istana yang dikelilingi bangunan pertanian, kandang, dan lumbung, serta sejumlah barang bagus lainnya. Semuanya kecil, tetapi dibuat dengan sangat teliti dan halus, dan tampak diukir oleh tangan yang cekatan dengan ketepatan luar biasa.
He might not have turned away his eyes from the consideration of this rarity for some time, if the voice had not once more made itself heard. It ordered him to turn round and look at the glass chest which was standing opposite.
Ia mungkin tak akan mengalihkan pandangannya dari benda langka ini untuk beberapa saat lamanya, seandainya suara itu tak kembali terdengar. Suara itu memerintahkannya untuk berbalik dan melihat peti kaca yang berdiri di seberangnya.
How his admiration increased when he saw therein a maiden of the greatest beauty! She lay as if asleep, and was wrapped in her long fair hair as in a precious mantle. Her eyes were closely shut, but the brightness of her complexion and a ribbon which her breathing moved to and fro, left no doubt that she was alive. The tailor was looking at the beauty with beating heart, when she suddenly opened her eyes, and started up at the sight of him in joyful terror.
Betapa kekagumannya semakin membesar ketika ia melihat di dalamnya seorang gadis yang paling jelita! Ia terbaring seolah tertidur, dan terbungkus dalam rambut pirangnya yang panjang bagaikan sebuah jubah berharga. Matanya terpejam rapat, tetapi kecerahan wajahnya dan sebuah pita yang bergerak maju-mundur karena napasnya, tak menyisakan keraguan bahwa ia masih hidup. Si penjahit memandangi kecantikan itu dengan jantung berdebar, ketika tiba-tiba ia membuka matanya, dan terlonjak bangun saat melihatnya dengan ketakutan yang bercampur suka cita.
“Just Heaven!” cried she, “my deliverance is at hand! Quick, quick, help me out of my prison; if thou pushest back the bolt of this glass coffin, then I shall be free.” The tailor obeyed without delay, and she immediately raised up the glass lid, came out and hastened into the corner of the hall, where she covered herself with a large cloak. Then she seated herself on a stone, ordered the young man to come to her, and after she had imprinted a friendly kiss on his lips, she said, “My long-desired deliverer, kind Heaven has guided thee to me, and put an end to my sorrows.
“Surga yang mulia!” serunya, “pembebasanku sudah dekat! Cepat, cepat, bantu aku keluar dari penjaraku ini; jika kau mendorong ke belakang gerendel peti kaca ini, maka aku akan bebas.” Si penjahit segera menurut tanpa menunda, dan ia langsung mengangkat tutup kaca itu, keluar dan bergegas ke sudut aula, tempat ia menyelimuti dirinya dengan jubah besar. Kemudian ia duduk di atas sebuah batu, memerintahkan si pemuda untuk mendekat, dan setelah ia mengecup bibirnya dengan mesra, ia berkata, “Pembebasku yang telah lama kunanti, Surga yang baik telah menuntunmu kepadaku, dan mengakhiri kesedihanku.
On the self-same day when they end, shall thy happiness begin. Thou art the husband chosen for me by Heaven, and shalt pass thy life in unbroken joy, loved by me, and rich to overflowing in every earthly possession. Seat thyself, and listen to the story of my life:
Pada hari yang sama ketika kesedihan itu berakhir, kebahagiaanmu akan bermula. Kaulah suami yang dipilihkan Surga untukku, dan akan menjalani hidupmu dalam kebahagiaan yang tak terputus, dicintai olehku, dan berlimpah kaya dalam setiap harta duniawi. Duduklah, dan dengarkan kisah hidupku:
“I am the daughter of a rich count. My parents died when I was still in my tender youth, and recommended me in their last will to my elder brother, by whom I was brought up. We loved each other so tenderly, and were so alike in our way of thinking and our inclinations, that we both embraced the resolution never to marry, but to stay together to the end of our lives. In our house there was no lack of company; neighbors and friends visited us often, and we showed the greatest hospitality to every one.
“Aku adalah putri seorang bangsawan kaya. Orang tuaku meninggal ketika aku masih muda belia, dan dalam wasiat terakhir mereka menitipkanku pada kakak laki-lakiku, oleh siapa aku dibesarkan. Kami saling mencintai dengan begitu lembut, dan begitu serupa dalam cara berpikir dan kecenderungan kami, sehingga kami berdua mengambil keputusan untuk tak pernah menikah, tetapi tetap bersama hingga akhir hidup kami. Di rumah kami tak pernah kekurangan tamu; para tetangga dan sahabat sering mengunjungi kami, dan kami menunjukkan keramahan terbesar kepada setiap orang.
So it came to pass one evening that a stranger came riding to our castle, and, under pretext of not being able to get on to the next place, begged for shelter for the night. We granted his request with ready courtesy, and he entertained us in the most agreeable manner during supper by conversation intermingled with stories. My brother liked the stranger so much that he begged him to spend a couple of days with us, to which, after some hesitation, he consented. We did not rise from table until late in the night, the stranger was shown to room, and I hastened, as I was tired, to lay my limbs in my soft bed.
Maka pada suatu malam terjadilah seorang asing datang menunggang kuda ke istana kami, dan, dengan dalih tak sanggup melanjutkan perjalanan ke tempat berikutnya, memohon tempat berlindung untuk semalam. Kami mengabulkan permintaannya dengan kesopanan yang tulus, dan ia menghibur kami dengan cara yang sangat menyenangkan selama makan malam melalui percakapan yang diselingi cerita-cerita. Kakakku begitu menyukai orang asing itu sehingga ia memohon agar ia tinggal beberapa hari bersama kami, yang, setelah sedikit ragu, ia setujui. Kami tak beranjak dari meja sampai larut malam, orang asing itu diantar ke kamarnya, dan aku bergegas, karena aku lelah, untuk merebahkan tubuhku di ranjang lembutku.
Hardly had I slept for a short time, when the sound of faint and delightful music awoke me. As I could not conceive from whence it came, I wanted to summon my waiting-maid who slept in the next room, but to my astonishment I found that speech was taken away from me by an unknown force. I felt as if a mountain were weighing down my breast, and was unable to make the very slightest sound.
Baru saja aku tertidur sebentar, ketika suara musik yang lembut dan indah membangunkanku. Karena aku tak bisa membayangkan dari mana asalnya, aku ingin memanggil pelayanku yang tidur di kamar sebelah, tetapi alangkah terkejutnya aku mendapati bahwa kemampuan bicaraku direnggut oleh sebuah kekuatan tak dikenal. Aku merasa seolah sebuah gunung menekan dadaku, dan tak mampu mengeluarkan suara sekecil apa pun.
In the meantime, by the light of my night-lamp, I saw the stranger enter my room through two doors which were fast bolted. He came to me and said, that by magic arts which were at his command, he had caused the lovely music to sound in order to awaken me, and that he now forced his way through all fastenings with the intention of offering me his hand and heart. My repugnance to his magic arts was, however, so great, that I vouchsafed him no answer.
Sementara itu, di bawah cahaya lampu malamku, aku melihat orang asing itu memasuki kamarku melalui dua pintu yang terkunci rapat. Ia mendekatiku dan berkata, bahwa dengan seni sihir yang ia kuasai, ia telah membuat musik indah itu berbunyi untuk membangunkanku, dan bahwa ia kini memaksa jalannya melalui semua kunci dengan niat menawarkan tangan dan hatinya kepadaku. Namun kejijikanku terhadap seni sihirnya begitu besar, sehingga aku tak memberinya jawaban apa pun.
He remained for a time standing without moving, apparently with the idea of waiting for a favorable decision, but as I continued to keep silence, he angrily declared he would revenge himself and find means to punish my pride, and left the room. I passed the night in the greatest disquietude, and only fell asleep towards morning. When I awoke, I hurried to my brother, but did not find him in his room, and the attendants told me that he had ridden forth with the stranger to the chase by daybreak.
Ia berdiri diam untuk beberapa saat, tampaknya dengan gagasan menunggu sebuah keputusan yang menguntungkan, tetapi karena aku tetap berdiam diri, ia dengan marah menyatakan bahwa ia akan membalas dendam dan mencari cara untuk menghukum keangkuhanku, dan meninggalkan kamar itu. Aku melewati malam itu dalam kegelisahan terbesar, dan baru tertidur menjelang pagi. Ketika aku terbangun, aku bergegas ke kakakku, tetapi tak menemukannya di kamarnya, dan para pelayan memberitahuku bahwa ia telah berkuda pergi bersama orang asing itu untuk berburu sejak fajar.
“I at once suspected nothing good. I dressed myself quickly, ordered my palfrey to be saddled, and accompanied only by one servant, rode full gallop to the forest. The servant fell with his horse, and could not follow me, for the horse had broken its foot. I pursued my way without halting, and in a few minutes I saw the stranger coming towards me with a beautiful stag which he led by a cord. I asked him where he had left my brother, and how he had come by this stag, out of whose great eyes I saw tears flowing.
“Aku langsung menduga sesuatu yang tak baik. Aku berpakaian dengan cepat, memerintahkan kuda tungganganku dipasangi pelana, dan hanya ditemani seorang pelayan, aku berkuda dengan kecepatan penuh menuju hutan. Pelayan itu terjatuh bersama kudanya, dan tak bisa mengikutiku, sebab kudanya patah kakinya. Aku melanjutkan perjalananku tanpa berhenti, dan dalam beberapa menit aku melihat orang asing itu datang ke arahku dengan seekor rusa jantan yang tampan yang ia tuntun dengan seutas tali. Aku bertanya kepadanya di mana ia meninggalkan kakakku, dan bagaimana ia mendapatkan rusa ini, dari mata besarnya aku melihat air mata mengalir.
Instead of answering me, he began to laugh loudly. I fell into a great rage at this, pulled out a pistol and discharged it at the monster; but the ball rebounded from his breast and went into my horse’s head. I fell to the ground, and the stranger muttered some words which deprived me of consciousness.
Alih-alih menjawabku, ia mulai tertawa keras. Aku menjadi sangat murka karenanya, menarik keluar sebuah pistol dan menembakkannya ke arah monster itu; tetapi peluru itu memantul dari dadanya dan mengenai kepala kudaku. Aku terjatuh ke tanah, dan orang asing itu menggumamkan beberapa kata yang merenggut kesadaranku.
“When I came to my senses again I found myself in this underground cave in a glass coffin. The magician appeared once again, and said he had changed my brother into a stag, my castle with all that belonged to it, diminished in size by his arts, he had shut up in the other glass chest, and my people, who were all turned into smoke, he had confined in glass bottles.
“Ketika aku sadar kembali aku mendapati diriku di gua bawah tanah ini di dalam peti kaca. Sang penyihir muncul sekali lagi, dan berkata bahwa ia telah mengubah kakakku menjadi seekor rusa, istanaku dengan segala miliknya, diperkecil ukurannya dengan sihirnya, ia kurung di peti kaca yang lain, dan orang-orangku, yang semuanya diubah menjadi asap, ia kurung dalam botol-botol kaca.
He told me that if I would now comply with his wish, it was an easy thing for him to put everything back in its former state, as he had nothing to do but open the vessels, and everything would return once more to its natural form. I answered him as little as I had done the first time.
Ia memberitahuku bahwa jika aku sekarang menuruti keinginannya, adalah perkara mudah baginya untuk mengembalikan segalanya ke keadaan semula, sebab ia hanya perlu membuka wadah-wadah itu, dan segalanya akan kembali ke bentuk alaminya. Aku menjawabnya sesedikit seperti yang kulakukan pada kali pertama.
He vanished and left me in my prison, in which a deep sleep came on me. Amongst the visions which passed before my eyes, that was the most comforting in which a young man came and set me free, and when I opened my eyes to-day I saw thee, and beheld my dream fulfilled. Help me to accomplish the other things which happened in those visions. The first is that we lift the glass chest in which my castle is enclosed, on to that broad stone.”
Ia lenyap dan meninggalkanku dalam penjaraku, tempat tidur yang dalam menghampiriku. Di antara penglihatan-penglihatan yang berlalu di hadapan mataku, yang paling menghibur adalah ketika seorang pemuda datang dan membebaskanku, dan ketika aku membuka mataku hari ini aku melihatmu, dan menyaksikan mimpiku terwujud. Bantu aku menyempurnakan hal-hal lain yang terjadi dalam penglihatan-penglihatan itu. Yang pertama adalah kita mengangkat peti kaca tempat istanaku terkurung, ke atas batu lebar itu.”
As soon as the stone was laden, it began to rise up on high with the maiden and the young man, and mounted through the opening of the ceiling into the upper hall, from whence they then could easily reach the open air. Here the maiden opened the lid, and it was marvellous to behold how the castle, the houses, and the farm buildings which were enclosed, stretched themselves out and grew to their natural size with the greatest rapidity.
Segera setelah batu itu dimuati, ia mulai naik tinggi bersama sang gadis dan pemuda itu, dan naik melalui lubang di langit-langit menuju aula atas, dari mana mereka kemudian bisa dengan mudah mencapai udara terbuka. Di sini sang gadis membuka tutupnya, dan sungguh menakjubkan menyaksikan bagaimana istana, rumah-rumah, dan bangunan pertanian yang terkurung di dalamnya, meregang dan tumbuh ke ukuran alaminya dengan kecepatan luar biasa.
After this, the maiden and the tailor returned to the cave beneath the earth, and had the vessels which were filled with smoke carried up by the stone. The maiden had scarcely opened the bottles when the blue smoke rushed out and changed itself into living men, in whom she recognized her servants and her people. Her joy was still more increased when her brother, who had killed the magician in the form of the bull, came out of the forest towards them in his human form, and on the self-same day the maiden, in accordance with her promise, gave her hand at the altar to the lucky tailor.
Setelah ini, sang gadis dan si penjahit kembali ke gua di bawah tanah, dan membawa naik wadah-wadah yang berisi asap dengan bantuan batu itu. Sang gadis baru saja membuka botol-botol itu ketika asap biru menyembur keluar dan mengubah dirinya menjadi manusia hidup, di antaranya ia mengenali para pelayan dan rakyatnya. Kebahagiaannya semakin bertambah ketika kakaknya, yang telah membunuh sang penyihir dalam wujud banteng, keluar dari hutan menuju mereka dalam wujud manusianya, dan pada hari yang sama itu juga sang gadis, sesuai janjinya, memberikan tangannya di altar kepada penjahit yang beruntung itu.