The Golden Arm
A free B1-level English story for language learners, readable online in 7 languages, with an option to listen via the free Storyteller app.
A greedy husband digs up his late wife's golden arm from her grave, and something comes looking for it in the dark.
Here was once a man who travelled the land all over in search of a wife. He saw young and old, rich and poor, pretty and plain, and could not meet with one to his mind. At last he found a woman, young, fair, and rich, who possessed a right arm of solid gold. He married her at once, and thought no man so fortunate as he was. They lived happily together, but, though he wished people to think otherwise, he was fonder of the golden arm than of all his wife's gifts besides.
Dahulu kala hiduplah seorang pria yang mengelilingi seluruh negeri untuk mencari seorang istri. Ia telah melihat yang muda dan yang tua, yang kaya dan yang miskin, yang cantik dan yang biasa saja, namun tak satu pun yang cocok di hatinya. Akhirnya ia menemukan seorang wanita, muda, cantik, dan kaya, yang memiliki lengan kanan dari emas murni. Ia segera menikahinya, dan mengira tak ada pria yang seberuntung dirinya. Mereka hidup bahagia bersama, namun, meski ia ingin orang lain berpikir sebaliknya, ia lebih menyayangi lengan emas itu daripada semua pemberian istrinya yang lain.
At last she died. The husband put on the blackest black, and pulled the longest face at the funeral; but for all that he got up in the middle of the night, dug up the body, and cut off the golden arm. He hurried home to hide his treasure, and thought no one would know.
Akhirnya sang istri meninggal dunia. Sang suami mengenakan pakaian hitam paling pekat, dan memasang wajah paling sedih di pemakaman; namun meski begitu, di tengah malam ia bangun, menggali kembali jasad istrinya, dan memotong lengan emas itu. Ia bergegas pulang untuk menyembunyikan harta karunnya, dan mengira tak seorang pun akan tahu.
The following night he put the golden arm under his pillow, and was just falling asleep, when the ghost of his dead wife glided into the room. Stalking up to the bedside it drew the curtain, and looked at him reproachfully. Pretending not to be afraid, he spoke to the ghost, and said: “What hast thou done with thy cheeks so red?”
Malam berikutnya ia meletakkan lengan emas itu di bawah bantalnya, dan baru saja hendak tertidur, ketika hantu istrinya yang telah meninggal melayang masuk ke dalam kamar. Melangkah mendekati ranjang, hantu itu menyibak tirai, dan menatapnya dengan penuh kecaman. Berpura-pura tidak takut, ia berbicara kepada hantu itu, dan berkata, "Apa yang telah kau lakukan dengan pipimu yang merah merona itu?"
“All withered and wasted away,” replied the ghost, in a hollow tone.
"Semuanya telah layu dan sirna," jawab hantu itu, dengan suara berongga.
“What hast thou done with thy red rosy lips?”
"Apa yang telah kau lakukan dengan bibirmu yang merah merekah itu?"
“All withered and wasted away.”
"Semuanya telah layu dan sirna."
“What hast thou done with thy golden hair?”
"Apa yang telah kau lakukan dengan rambutmu yang keemasan itu?"
“All withered and wasted away.”
"Semuanya telah layu dan sirna."
“What hast thou done with thy Golden Arm?”
"Apa yang telah kau lakukan dengan Lengan Emasmu?"
“THOU HAST IT!”
"ITU ADA PADAMU!"