Storyteller

The Master and His Pupil

A free B2-level English story for language learners, readable online in 7 languages, with an option to listen via the free Storyteller app.

Level
B2
Genres
folklore, fantasy
Reading time
4 min
Languages available
EN, VI, ES, ZH, PT, HI, ID
The Master and His Pupil cover

A curious young servant sneaks a look at his master's locked book of spells while he is away — and summons a demon he has no idea how to send back.

There was once a very learned man in the north-country who knew all the languages under the sun, and who was acquainted with all the mysteries of creation. He had one big book bound in black calf and clasped with iron, and with iron corners, and chained to a table which was made fast to the floor; and when he read out of this book, he unlocked it with an iron key, and none but he read from it, for it contained all the secrets of the spiritual world.

Dahulu kala hiduplah seorang pria yang sangat terpelajar di negeri utara, yang menguasai semua bahasa di bawah matahari, dan yang mengetahui segala rahasia penciptaan. Ia memiliki sebuah buku besar yang dijilid dengan kulit anak sapi hitam dan dikunci dengan besi, dengan sudut-sudut besi, serta dirantai ke sebuah meja yang dipasang kokoh ke lantai; dan ketika ia membaca dari buku itu, ia membukanya dengan kunci besi, dan tidak ada seorang pun selain dirinya yang membaca darinya, karena buku itu memuat semua rahasia dunia gaib.

It told how many angels there were in heaven, and how they marched in their ranks, and sang in their quires, and what were their several functions, and what was the name of each great angel of might. And it told of the demons, how many of them there were, and what were their several powers, and their labours, and their names, and how they might be summoned, and how tasks might be imposed on them, and how they might be chained to be as slaves to man.

Buku itu menceritakan berapa banyak malaikat yang ada di surga, dan bagaimana mereka berbaris dalam barisan mereka, dan bernyanyi dalam paduan suara mereka, serta apa saja tugas masing-masing, dan siapa nama setiap malaikat agung yang berkuasa. Dan buku itu juga menceritakan tentang para iblis, berapa banyak jumlah mereka, apa saja kekuatan mereka masing-masing, tugas-tugas mereka, dan nama-nama mereka, bagaimana mereka dapat dipanggil, bagaimana tugas dapat dibebankan kepada mereka, dan bagaimana mereka dapat dirantai untuk dijadikan budak manusia.

Now the master had a pupil who was but a foolish lad, and he acted as servant to the great master, but never was he suffered to look into the black book, hardly to enter the private room.

Sang guru memiliki seorang murid yang hanyalah seorang pemuda bodoh, dan ia bertugas sebagai pelayan bagi sang guru besar itu, namun ia tidak pernah diizinkan melihat isi buku hitam itu, bahkan hampir tidak diizinkan masuk ke ruang pribadi tersebut.

One day the master was out, and then the lad, as curious as could be, hurried to the chamber where his master kept his wondrous apparatus for changing copper into gold, and lead into silver, and where was his mirror in which he could see all that was passing in the world, and where was the shell which when held to the ear whispered all the words that were being spoken by anyone the master desired to know about.

Suatu hari sang guru pergi keluar, dan pemuda itu, yang amat penasaran, bergegas menuju ruangan tempat gurunya menyimpan alat-alat ajaibnya untuk mengubah tembaga menjadi emas, dan timah menjadi perak, serta tempat cerminnya berada, yang di dalamnya ia bisa melihat segala yang terjadi di dunia, dan tempat kerang itu berada, yang bila ditempelkan ke telinga akan membisikkan semua kata yang diucapkan oleh siapa pun yang ingin diketahui oleh sang guru.

The lad tried in vain with the crucibles to turn copper and lead into gold and silver—he looked long and vainly into the mirror; smoke and clouds passed over it, but he saw nothing plain, and the shell to his ear produced only indistinct murmurings, like the breaking of distant seas on an unknown shore. “I can do nothing,” he said; “as I don't know the right words to utter, and they are locked up in yon book.”

Pemuda itu mencoba sia-sia menggunakan wadah pelebur untuk mengubah tembaga dan timah menjadi emas dan perak—ia menatap lama dan sia-sia ke dalam cermin; asap dan kabut melintas di atasnya, tetapi ia tidak melihat apa pun dengan jelas, dan kerang di telinganya hanya menghasilkan gumaman samar, seperti deburan laut yang jauh di pantai yang tak dikenal. "Aku tidak bisa berbuat apa-apa," katanya, "karena aku tidak tahu kata-kata yang tepat untuk diucapkan, dan kata-kata itu terkunci di dalam buku itu."

He looked round, and, see! the book was unfastened; the master had forgotten to lock it before he went out. The boy rushed to it, and unclosed the volume. It was written with red and black ink, and much of it he could not understand; but he put his finger on a line and spelled it through.

Ia menoleh ke sekeliling, dan lihatlah! buku itu tidak terkunci; sang guru lupa menguncinya sebelum pergi. Pemuda itu bergegas menghampirinya dan membuka buku itu. Buku itu ditulis dengan tinta merah dan hitam, dan banyak bagiannya yang tidak ia pahami; tetapi ia meletakkan jarinya pada satu baris dan mengejanya perlahan.

At once the room was darkened, and the house trembled; a clap of thunder rolled through the passage and the old room, and there stood before him a horrible, horrible form, breathing fire, and with eyes like burning lamps. It was the demon Beelzebub, whom he had called up to serve him.

Seketika ruangan itu menjadi gelap, dan rumah itu berguncang; suara guntur menggelegar di lorong dan ruangan tua itu, dan di hadapannya berdiri sesosok makhluk yang mengerikan, sangat mengerikan, menghembuskan api, dengan mata seperti lampu yang menyala. Itu adalah iblis Beelzebub, yang telah ia panggil untuk melayaninya.

“Set me a task!” said he, with a voice like the roaring of an iron furnace.

"Berikan aku sebuah tugas!" katanya, dengan suara seperti gemuruh tungku besi.

The boy only trembled, and his hair stood up.

Pemuda itu hanya gemetar, dan rambutnya berdiri tegak.

“Set me a task, or I shall strangle thee!”

"Berikan aku sebuah tugas, atau aku akan mencekikmu!"

But the lad could not speak. Then the evil spirit stepped towards him, and putting forth his hands touched his throat. The fingers burned his flesh. “Set me a task!”

Namun pemuda itu tidak bisa berkata-kata. Kemudian roh jahat itu melangkah mendekatinya, dan mengulurkan tangannya menyentuh lehernya. Jari-jarinya membakar kulitnya. "Berikan aku sebuah tugas!"

“Water yon flower,” cried the boy in despair, pointing to a geranium which stood in a pot on the floor. Instantly the spirit left the room, but in another instant he returned with a barrel on his back, and poured its contents over the flower; and again and again he went and came, and poured more and more water, till the floor of the room was ankle-deep.

"Siramilah bunga itu," teriak pemuda itu putus asa, menunjuk ke sebuah bunga geranium yang berada dalam pot di lantai. Seketika roh itu meninggalkan ruangan, tetapi sesaat kemudian ia kembali dengan sebuah tong di punggungnya, dan menuangkan isinya ke atas bunga itu; dan berulang kali ia pergi dan kembali, menuangkan air lebih banyak dan lebih banyak lagi, hingga lantai ruangan itu tergenang setinggi mata kaki.

“Enough, enough!” gasped the lad; but the demon heeded him not; the lad didn't know the words by which to send him away, and still he fetched water.

"Cukup, cukup!" pemuda itu terengah-engah; tetapi iblis itu tidak menghiraukannya; pemuda itu tidak tahu kata-kata untuk mengusirnya pergi, dan iblis itu tetap saja mengambil air.

It rose to the boy's knees and still more water was poured. It mounted to his waist, and Beelzebub still kept on bringing barrels full. It rose to his armpits, and he scrambled to the table-top. And now the water in the room stood up to the window and washed against the glass, and swirled around his feet on the table. It still rose; it reached his breast.

Air itu naik hingga ke lutut pemuda itu, dan air masih terus dituangkan. Air itu naik hingga ke pinggangnya, dan Beelzebub masih saja membawa tong-tong penuh air. Air itu naik hingga ke ketiaknya, dan ia memanjat ke atas meja. Dan kini air di dalam ruangan itu telah naik setinggi jendela dan membasahi kacanya, serta berputar-putar di sekeliling kakinya di atas meja. Air itu terus naik; hingga mencapai dadanya.

In vain he cried; the evil spirit would not be dismissed, and to this day he would have been pouring water, and would have drowned all Yorkshire. But the master remembered on his journey that he had not locked his book, and therefore returned, and at the moment when the water was bubbling about the pupil's chin, rushed into the room and spoke the words which cast Beelzebub back into his fiery home.

Sia-sia ia berteriak; roh jahat itu tidak mau diusir, dan hingga hari ini ia pasti masih akan terus menuangkan air, dan akan menenggelamkan seluruh Yorkshire. Tetapi sang guru teringat di tengah perjalanannya bahwa ia belum mengunci bukunya, sehingga ia kembali, dan pada saat air telah menggelembung hingga ke dagu sang murid, ia bergegas masuk ke dalam ruangan dan mengucapkan kata-kata yang mengusir Beelzebub kembali ke tempat asalnya yang berapi-api.

Open in the Storyteller app Get it on Google Play