Storyteller

The Goose-Girl

A free B1-level English story for language learners, readable online in 7 languages, with an option to listen via the free Storyteller app.

Level
B1
Genres
fairy-tale, classic
Reading time
12 min
Languages available
EN, VI, ES, ZH, PT, HI, ID
The Goose-Girl cover

A princess is sent to marry a foreign prince, but her treacherous maid steals her identity on the journey. Reduced to tending geese, the true princess waits — and the truth slowly finds its way to light.

The king of a great land died, and left his queen to take care of their only child. This child was a daughter, who was very beautiful; and her mother loved her dearly, and was very kind to her. And there was a good fairy too, who was fond of the princess, and helped her mother to watch over her.

Raja sebuah negeri besar meninggal dunia, dan meninggalkan sang ratu untuk menjaga anak tunggal mereka. Anak ini seorang putri, yang sangat cantik; dan ibunya sangat mencintainya, serta sangat baik kepadanya. Ada pula seorang peri baik yang menyayangi sang putri, dan membantu ibunya menjaganya.

When she grew up, she was betrothed to a prince who lived a great way off; and as the time drew near for her to be married, she got ready to set off on her journey to his country. Then the queen her mother, packed up a great many costly things; jewels, and gold, and silver; trinkets, fine dresses, and in short everything that became a royal bride. And she gave her a waiting-maid to ride with her, and give her into the bridegroom’s hands; and each had a horse for the journey. Now the princess’s horse was the fairy’s gift, and it was called Falada, and could speak.

Ketika ia beranjak dewasa, ia ditunangkan dengan seorang pangeran yang tinggal jauh sekali; dan ketika waktu pernikahannya semakin dekat, ia bersiap untuk berangkat menuju negeri sang pangeran. Maka sang ratu, ibunya, mengemas banyak sekali barang berharga; permata, emas, dan perak; perhiasan, gaun-gaun indah, dan singkatnya segala sesuatu yang layak bagi seorang pengantin kerajaan. Dan ia memberinya seorang dayang untuk menemaninya dalam perjalanan, dan menyerahkannya ke tangan sang mempelai pria; dan masing-masing memiliki seekor kuda untuk perjalanan itu. Adapun kuda sang putri adalah pemberian sang peri, dan bernama Falada, dan bisa berbicara.

When the time came for them to set out, the fairy went into her bed-chamber, and took a little knife, and cut off a lock of her hair, and gave it to the princess, and said, ‘Take care of it, dear child; for it is a charm that may be of use to you on the road.’ Then they all took a sorrowful leave of the princess; and she put the lock of hair into her bosom, got upon her horse, and set off on her journey to her bridegroom’s kingdom.

Ketika waktunya tiba bagi mereka untuk berangkat, sang peri masuk ke kamar tidur sang putri, dan mengambil sebilah pisau kecil, lalu memotong seuntai rambutnya, dan memberikannya kepada sang putri, seraya berkata, ‘Jagalah ini baik-baik, anakku sayang; sebab ini adalah jimat yang mungkin berguna bagimu di jalan.’ Lalu semua orang mengucapkan perpisahan yang sedih kepada sang putri; dan ia menyimpan seuntai rambut itu di dadanya, menaiki kudanya, dan berangkat menuju kerajaan sang mempelai pria.

One day, as they were riding along by a brook, the princess began to feel very thirsty: and she said to her maid, ‘Pray get down, and fetch me some water in my golden cup out of yonder brook, for I want to drink.’ ‘Nay,’ said the maid, ‘if you are thirsty, get off yourself, and stoop down by the water and drink; I shall not be your waiting-maid any longer.’ Then she was so thirsty that she got down, and knelt over the little brook, and drank; for she was frightened, and dared not bring out her golden cup; and she wept and said, ‘Alas! what will become of me?’ And the lock answered her, and said:

Suatu hari, ketika mereka berkuda menyusuri sebuah anak sungai, sang putri mulai merasa sangat haus: dan ia berkata kepada dayangnya, ‘Tolong turunlah, dan ambilkan aku air dari anak sungai itu dengan cangkir emasku, sebab aku ingin minum.’ ‘Tidak,’ kata sang dayang, ‘jika kau haus, turunlah sendiri, dan membungkuklah di dekat air lalu minumlah; aku tak akan menjadi dayangmu lagi.’ Maka karena begitu haus, sang putri turun, dan berlutut di atas anak sungai kecil itu, lalu minum; sebab ia ketakutan, dan tak berani mengeluarkan cangkir emasnya; dan ia menangis serta berkata, ‘Aduhai! apa yang akan terjadi padaku?’ Dan seuntai rambut itu menjawabnya, katanya:

‘Alas! alas! if thy mother knew it, Sadly, sadly, would she rue it.’

‘Aduhai, aduhai, andai ibundamu tahu, Sedih nian, sedih nian, hatinya akan pilu.’

But the princess was very gentle and meek, so she said nothing to her maid’s ill behaviour, but got upon her horse again.

Namun sang putri sangat lembut dan rendah hati, sehingga ia tak berkata apa-apa tentang perilaku buruk dayangnya, melainkan menaiki kudanya kembali.

Then all rode farther on their journey, till the day grew so warm, and the sun so scorching, that the bride began to feel very thirsty again; and at last, when they came to a river, she forgot her maid’s rude speech, and said, ‘Pray get down, and fetch me some water to drink in my golden cup.’ But the maid answered her, and even spoke more haughtily than before: ‘Drink if you will, but I shall not be your waiting-maid.’

Kemudian mereka semua melanjutkan perjalanan, hingga hari menjadi sangat panas, dan matahari begitu terik, sehingga sang mempelai kembali merasa sangat haus; dan akhirnya, ketika mereka tiba di sebuah sungai, ia lupa akan ucapan kasar dayangnya, dan berkata, ‘Tolong turunlah, dan ambilkan aku air untuk diminum dengan cangkir emasku.’ Namun sang dayang menjawabnya, bahkan dengan nada yang lebih angkuh dari sebelumnya: ‘Minumlah sendiri kalau mau, tapi aku tak akan menjadi dayangmu.’

Then the princess was so thirsty that she got off her horse, and lay down, and held her head over the running stream, and cried and said, ‘What will become of me?’ And the lock of hair answered her again:

Maka sang putri begitu haus sehingga ia turun dari kudanya, dan berbaring, lalu menundukkan kepalanya di atas aliran sungai, dan menangis seraya berkata, ‘Apa yang akan terjadi padaku?’ Dan seuntai rambut itu menjawabnya lagi:

‘Alas! alas! if thy mother knew it, Sadly, sadly, would she rue it.’

‘Aduhai, aduhai, andai ibundamu tahu, Sedih nian, sedih nian, hatinya akan pilu.’

And as she leaned down to drink, the lock of hair fell from her bosom, and floated away with the water. Now she was so frightened that she did not see it; but her maid saw it, and was very glad, for she knew the charm; and she saw that the poor bride would be in her power, now that she had lost the hair. So when the bride had done drinking, and would have got upon Falada again, the maid said, ‘I shall ride upon Falada, and you may have my horse instead’; so she was forced to give up her horse, and soon afterwards to take off her royal clothes and put on her maid’s shabby ones.

Dan ketika ia membungkuk untuk minum, seuntai rambut itu terjatuh dari dadanya, dan hanyut terbawa air. Ia begitu ketakutan sehingga tak menyadarinya; namun dayangnya melihatnya, dan sangat gembira, sebab ia tahu tentang jimat itu; dan ia melihat bahwa sang mempelai malang itu akan berada dalam kuasanya, kini setelah rambut itu hilang. Maka ketika sang mempelai selesai minum, dan hendak menaiki Falada kembali, sang dayang berkata, ‘Aku yang akan menunggang Falada, dan kau bisa memakai kudaku sebagai gantinya’; maka ia terpaksa menyerahkan kudanya, dan segera setelah itu melepas pakaian kerajaannya dan mengenakan pakaian lusuh milik sang dayang.

At last, as they drew near the end of their journey, this treacherous servant threatened to kill her mistress if she ever told anyone what had happened. But Falada saw it all, and marked it well.

Akhirnya, ketika mereka mendekati akhir perjalanan, pelayan yang berkhianat ini mengancam akan membunuh majikannya jika ia pernah menceritakan kepada siapa pun apa yang telah terjadi. Namun Falada melihat semuanya, dan mengingatnya baik-baik.

Then the waiting-maid got upon Falada, and the real bride rode upon the other horse, and they went on in this way till at last they came to the royal court. There was great joy at their coming, and the prince flew to meet them, and lifted the maid from her horse, thinking she was the one who was to be his wife; and she was led upstairs to the royal chamber; but the true princess was told to stay in the court below.

Kemudian sang dayang menaiki Falada, dan mempelai sejati menunggang kuda yang lain, dan mereka melanjutkan perjalanan seperti itu hingga akhirnya tiba di istana kerajaan. Ada sukacita besar menyambut kedatangan mereka, dan sang pangeran berlari menyambut mereka, lalu menurunkan sang dayang dari kudanya, mengira dialah yang akan menjadi istrinya; dan ia dituntun naik ke kamar kerajaan; sedangkan sang putri sejati disuruh menunggu di halaman istana.

Now the old king happened just then to have nothing else to do; so he amused himself by sitting at his kitchen window, looking at what was going on; and he saw her in the courtyard. As she looked very pretty, and too delicate for a waiting-maid, he went up into the royal chamber to ask the bride who it was she had brought with her, that was thus left standing in the court below.

Kebetulan saat itu raja tua sedang tak memiliki kesibukan lain; jadi ia menghibur dirinya dengan duduk di jendela dapurnya, memperhatikan apa yang terjadi; dan ia melihatnya di halaman. Karena tampak sangat cantik, dan terlalu halus untuk seorang dayang, ia naik ke kamar kerajaan untuk menanyakan kepada sang mempelai siapa gerangan yang dibawanya, yang dibiarkan berdiri di halaman bawah itu.

‘I brought her with me for the sake of her company on the road,’ said she; ‘pray give the girl some work to do, that she may not be idle.’ The old king could not for some time think of any work for her to do; but at last he said, ‘I have a lad who takes care of my geese; she may go and help him.’ Now the name of this lad, that the real bride was to help in watching the king’s geese, was Curdken.

‘Aku membawanya bersamaku demi menemaniku di jalan,’ kata sang mempelai; ‘tolong berikan gadis itu pekerjaan, agar ia tak menganggur.’ Raja tua itu untuk sesaat tak dapat memikirkan pekerjaan apa untuknya; namun akhirnya ia berkata, ‘Aku punya seorang bocah yang menjaga angsa-angsaku; ia boleh membantunya.’ Adapun nama bocah itu, yang akan dibantu oleh mempelai sejati dalam menjaga angsa-angsa raja, adalah Curdken.

But the false bride said to the prince, ‘Dear husband, pray do me one piece of kindness.’ ‘That I will,’ said the prince. ‘Then tell one of your slaughterers to cut off the head of the horse I rode upon, for it was very unruly, and plagued me sadly on the road’; but the truth was, she was very much afraid lest Falada should some day or other speak, and tell all she had done to the princess.

Namun sang mempelai palsu berkata kepada sang pangeran, ‘Suamiku sayang, tolong lakukan satu kebaikan untukku.’ ‘Akan kulakukan,’ kata sang pangeran. ‘Kalau begitu suruh salah satu penyembelihmu memenggal kepala kuda yang kutunggangi, sebab ia sangat liar, dan sangat menyusahkanku di jalan’; namun sebenarnya, ia sangat takut kalau-kalau Falada suatu hari akan bicara, dan menceritakan semua yang telah ia lakukan kepada sang putri.

She carried her point, and the faithful Falada was killed; but when the true princess heard of it, she wept, and begged the man to nail up Falada’s head against a large dark gate of the city, through which she had to pass every morning and evening, that there she might still see him sometimes. Then the slaughterer said he would do as she wished; and cut off the head, and nailed it up under the dark gate.

Ia berhasil mendapatkan keinginannya, dan Falada yang setia pun dibunuh; namun ketika sang putri sejati mendengarnya, ia menangis, dan memohon kepada pria itu untuk memakukan kepala Falada di gerbang gelap besar kota itu, tempat ia harus lewat setiap pagi dan petang, agar di sana ia masih bisa melihatnya sesekali. Maka si penyembelih berkata ia akan melakukan seperti yang diinginkannya; lalu memenggal kepalanya, dan memakukannya di bawah gerbang gelap itu.

Early the next morning, as she and Curdken went out through the gate, she said sorrowfully:

Keesokan paginya, ketika ia dan Curdken keluar melalui gerbang itu, ia berkata dengan sedih:

‘Falada, Falada, there thou hangest!’

‘Falada, Falada, di situ kau tergantung!’

and the head answered:

dan kepala itu menjawab:

‘Bride, bride, there thou gangest! Alas! alas! if thy mother knew it, Sadly, sadly, would she rue it.’

‘Mempelai, mempelai, di situ kau melangkah! Aduhai, aduhai, andai ibundamu tahu, Sedih nian, sedih nian, hatinya akan pilu.’

Then they went out of the city, and drove the geese on. And when she came to the meadow, she sat down upon a bank there, and let down her waving locks of hair, which were all of pure silver; and when Curdken saw it glitter in the sun, he ran up, and would have pulled some of the locks out, but she cried:

Kemudian mereka keluar dari kota, dan menggiring angsa-angsa itu. Dan ketika ia tiba di padang rumput, ia duduk di sebuah tepian di sana, dan melepaskan untaian rambutnya yang bergelombang, yang seluruhnya berwarna perak murni; dan ketika Curdken melihatnya berkilau di bawah matahari, ia berlari mendekat, dan hendak mencabut beberapa untai rambut itu, tetapi ia berseru:

‘Blow, breezes, blow! Let Curdken’s hat go! Blow, breezes, blow! Let him after it go! O’er hills, dales, and rocks, Away be it whirl’d Till the silvery locks Are all comb’d and curl’d!

‘Bertiuplah, angin, bertiuplah! Biarkan topi Curdken terbang pergi! Bertiuplah, angin, bertiuplah! Biarkan ia mengejarnya pergi! Melewati bukit, lembah, dan batu karang, Terbawalah jauh berputar-putar Sampai untaian perak ini Semua tersisir dan terkeriting rapi!

Then there came a wind, so strong that it blew off Curdken’s hat; and away it flew over the hills: and he was forced to turn and run after it; till, by the time he came back, she had done combing and curling her hair, and had put it up again safe. Then he was very angry and sulky, and would not speak to her at all; but they watched the geese until it grew dark in the evening, and then drove them homewards.

Kemudian datanglah angin, begitu kencang hingga menerbangkan topi Curdken; dan topi itu melayang jauh menyeberangi bukit-bukit: dan ia terpaksa berbalik dan berlari mengejarnya; hingga, pada saat ia kembali, sang putri telah selesai menyisir dan mengeriting rambutnya, dan telah menyimpannya kembali dengan aman. Maka ia menjadi sangat marah dan cemberut, dan tak mau bicara sama sekali kepadanya; namun mereka menjaga angsa-angsa itu hingga hari mulai gelap di petang hari, lalu menggiring mereka pulang.

The next morning, as they were going through the dark gate, the poor girl looked up at Falada’s head, and cried:

Keesokan paginya, ketika mereka melewati gerbang gelap itu, gadis malang itu menengadah ke kepala Falada, dan berseru:

‘Falada, Falada, there thou hangest!’

‘Falada, Falada, di situ kau tergantung!’

and the head answered:

dan kepala itu menjawab:

‘Bride, bride, there thou gangest! Alas! alas! if thy mother knew it, Sadly, sadly, would she rue it.’

‘Mempelai, mempelai, di situ kau melangkah! Aduhai, aduhai, andai ibundamu tahu, Sedih nian, sedih nian, hatinya akan pilu.’

Then she drove on the geese, and sat down again in the meadow, and began to comb out her hair as before; and Curdken ran up to her, and wanted to take hold of it; but she cried out quickly:

Kemudian ia menggiring angsa-angsa itu, dan duduk kembali di padang rumput, lalu mulai menyisir rambutnya seperti sebelumnya; dan Curdken berlari mendekatinya, dan hendak memegangnya; namun ia segera berseru:

‘Blow, breezes, blow! Let Curdken’s hat go! Blow, breezes, blow! Let him after it go! O’er hills, dales, and rocks, Away be it whirl’d Till the silvery locks Are all comb’d and curl’d!

‘Bertiuplah, angin, bertiuplah! Biarkan topi Curdken terbang pergi! Bertiuplah, angin, bertiuplah! Biarkan ia mengejarnya pergi! Melewati bukit, lembah, dan batu karang, Terbawalah jauh berputar-putar Sampai untaian perak ini Semua tersisir dan terkeriting rapi!

Then the wind came and blew away his hat; and off it flew a great way, over the hills and far away, so that he had to run after it; and when he came back she had bound up her hair again, and all was safe. So they watched the geese till it grew dark.

Kemudian angin datang dan menerbangkan topinya; dan topi itu melayang jauh sekali, melewati bukit-bukit dan menghilang jauh, sehingga ia harus mengejarnya; dan ketika ia kembali, sang putri telah mengikat rambutnya lagi, dan semuanya aman. Maka mereka menjaga angsa-angsa itu hingga hari mulai gelap.

In the evening, after they came home, Curdken went to the old king, and said, ‘I cannot have that strange girl to help me to keep the geese any longer.’ ‘Why?’ said the king. ‘Because, instead of doing any good, she does nothing but tease me all day long.’ Then the king made him tell him what had happened. And Curdken said, ‘When we go in the morning through the dark gate with our flock of geese, she cries and talks with the head of a horse that hangs upon the wall, and says:

Pada malam harinya, setelah mereka pulang, Curdken pergi menemui raja tua, dan berkata, ‘Aku tak sanggup lagi ditemani gadis aneh itu untuk membantuku menjaga angsa-angsa.’ ‘Mengapa?’ kata sang raja. ‘Sebab, alih-alih membantu, ia hanya menggodaku sepanjang hari.’ Maka sang raja memintanya menceritakan apa yang terjadi. Dan Curdken berkata, ‘Ketika kami pergi di pagi hari melewati gerbang gelap dengan kawanan angsa kami, ia menangis dan bicara dengan kepala kuda yang tergantung di tembok itu, dan berkata:

‘Falada, Falada, there thou hangest!’

‘Falada, Falada, di situ kau tergantung!’

and the head answers:

dan kepala itu menjawab:

‘Bride, bride, there thou gangest! Alas! alas! if thy mother knew it, Sadly, sadly, would she rue it.’

‘Mempelai, mempelai, di situ kau melangkah! Aduhai, aduhai, andai ibundamu tahu, Sedih nian, sedih nian, hatinya akan pilu.’

And Curdken went on telling the king what had happened upon the meadow where the geese fed; how his hat was blown away; and how he was forced to run after it, and to leave his flock of geese to themselves.

Dan Curdken terus menceritakan kepada raja apa yang terjadi di padang rumput tempat angsa-angsa itu merumput; bagaimana topinya diterbangkan angin; dan bagaimana ia terpaksa mengejarnya, dan meninggalkan kawanan angsanya begitu saja.

But the old king told the boy to go out again the next day: and when morning came, he placed himself behind the dark gate, and heard how she spoke to Falada, and how Falada answered. Then he went into the field, and hid himself in a bush by the meadow’s side; and he soon saw with his own eyes how they drove the flock of geese; and how, after a little time, she let down her hair that glittered in the sun. And then he heard her say:

Namun raja tua itu menyuruh bocah itu keluar lagi keesokan harinya: dan ketika pagi tiba, ia menempatkan dirinya di balik gerbang gelap itu, dan mendengar bagaimana ia berbicara kepada Falada, dan bagaimana Falada menjawab. Kemudian ia pergi ke padang, dan bersembunyi di semak-semak di tepi padang rumput; dan tak lama ia melihat sendiri dengan matanya bagaimana mereka menggiring kawanan angsa itu; dan bagaimana, setelah beberapa saat, sang putri melepaskan rambutnya yang berkilau di bawah matahari. Dan kemudian ia mendengarnya berkata:

‘Blow, breezes, blow! Let Curdken’s hat go! Blow, breezes, blow! Let him after it go! O’er hills, dales, and rocks, Away be it whirl’d Till the silvery locks Are all comb’d and curl’d!

‘Bertiuplah, angin, bertiuplah! Biarkan topi Curdken terbang pergi! Bertiuplah, angin, bertiuplah! Biarkan ia mengejarnya pergi! Melewati bukit, lembah, dan batu karang, Terbawalah jauh berputar-putar Sampai untaian perak ini Semua tersisir dan terkeriting rapi!

And soon came a gale of wind, and carried away Curdken’s hat, and away went Curdken after it, while the girl went on combing and curling her hair. All this the old king saw: so he went home without being seen; and when the little goose-girl came back in the evening he called her aside, and asked her why she did so: but she burst into tears, and said, ‘That I must not tell you or any man, or I shall lose my life.’

Dan segera datanglah angin kencang, dan menerbangkan topi Curdken, dan Curdken pun berlari mengejarnya, sementara sang gadis terus menyisir dan mengeriting rambutnya. Semua ini disaksikan raja tua itu: maka ia pulang tanpa terlihat; dan ketika gadis penggembala angsa kecil itu kembali pada petang harinya, ia memanggilnya dan bertanya mengapa ia melakukan hal itu: namun gadis itu menangis, dan berkata, ‘Itu tak boleh kuceritakan kepadamu atau kepada siapa pun, atau aku akan kehilangan nyawaku.’

But the old king begged so hard, that she had no peace till she had told him all the tale, from beginning to end, word for word. And it was very lucky for her that she did so, for when she had done the king ordered royal clothes to be put upon her, and gazed on her with wonder, she was so beautiful.

Namun raja tua itu memohon dengan begitu sungguh-sungguh, sehingga gadis itu tak tenang hingga ia menceritakan semuanya, dari awal hingga akhir, kata demi kata. Dan sungguh beruntung baginya melakukan itu, sebab setelah ia selesai, sang raja memerintahkan agar pakaian kerajaan dikenakan padanya, dan memandangnya dengan takjub, sebab ia sungguh cantik.

Then he called his son and told him that he had only a false bride; for that she was merely a waiting-maid, while the true bride stood by. And the young king rejoiced when he saw her beauty, and heard how meek and patient she had been; and without saying anything to the false bride, the king ordered a great feast to be got ready for all his court.

Kemudian ia memanggil putranya dan memberitahunya bahwa ia hanya memiliki mempelai palsu; sebab wanita itu hanyalah seorang dayang, sementara mempelai sejati berdiri di sampingnya. Dan raja muda itu bersukacita ketika melihat kecantikannya, dan mendengar betapa lembut dan sabarnya ia selama ini; dan tanpa mengatakan apa pun kepada mempelai palsu, sang raja memerintahkan pesta besar disiapkan untuk seluruh istananya.

The bridegroom sat at the top, with the false princess on one side, and the true one on the other; but nobody knew her again, for her beauty was quite dazzling to their eyes; and she did not seem at all like the little goose-girl, now that she had her brilliant dress on.

Sang mempelai pria duduk di puncak meja, dengan putri palsu di satu sisi, dan putri sejati di sisi lain; namun tak seorang pun mengenalinya lagi, sebab kecantikannya begitu memesona mata mereka; dan ia sama sekali tak tampak seperti gadis penggembala angsa kecil itu, kini setelah ia mengenakan gaunnya yang gemerlap.

When they had eaten and drank, and were very merry, the old king said he would tell them a tale. So he began, and told all the story of the princess, as if it was one that he had once heard; and he asked the true waiting-maid what she thought ought to be done to anyone who would behave thus. ‘Nothing better,’ said this false bride, ‘than that she should be thrown into a cask stuck round with sharp nails, and that two white horses should be put to it, and should drag it from street to street till she was dead.’

Setelah mereka makan dan minum, dan sedang sangat riang, raja tua itu berkata ia akan menceritakan sebuah kisah. Maka ia pun memulai, dan menceritakan seluruh kisah sang putri, seolah-olah itu kisah yang pernah ia dengar; dan ia bertanya kepada dayang sejati itu apa yang menurutnya pantas dilakukan kepada siapa pun yang berbuat demikian. ‘Tak ada yang lebih pantas,’ kata mempelai palsu itu, ‘selain dilemparkan ke dalam sebuah tong yang dipasangi paku-paku tajam di sekelilingnya, dan diikatkan pada dua ekor kuda putih, yang akan menyeretnya dari jalan ke jalan hingga ia mati.’

‘Thou art she!’ said the old king; ‘and as thou has judged thyself, so shall it be done to thee.’ And the young king was then married to his true wife, and they reigned over the kingdom in peace and happiness all their lives; and the good fairy came to see them, and restored the faithful Falada to life again.

‘Engkaulah dia!’ kata raja tua itu; ‘dan sebagaimana engkau telah menghakimi dirimu sendiri, demikianlah yang akan dilakukan kepadamu.’ Dan raja muda itu pun kemudian dinikahkan dengan istrinya yang sejati, dan mereka memerintah kerajaan itu dalam damai dan bahagia sepanjang hidup mereka; dan sang peri baik datang untuk menemui mereka, dan menghidupkan kembali Falada yang setia itu.

Open in the Storyteller app Get it on Google Play