Storyteller

Fables: Hercules and the Wagoner, The Kid and the Wolf, The Town Mouse and the Country Mouse, The Fox and the Grapes

A free B1-level English story for language learners, readable online in 7 languages, with an option to listen via the free Storyteller app.

Level
B1
Genres
fable, classic
Reading time
5 min
Languages available
EN, VI, ES, ZH, PT, HI, ID
Fables: Hercules and the Wagoner, The Kid and the Wolf, The Town Mouse and the Country Mouse, The Fox and the Grapes cover

Four bite-sized Aesop fables: a farmer waiting for Hercules to do the work, a cheeky kid taunting a wolf from a safe rooftop, a country mouse's eye-opening city visit, and a fox after grapes just out of reach.

A Farmer was driving his wagon along a miry country road after a heavy rain. The horses could hardly drag the load through the deep mud, and at last came to a standstill when one of the wheels sank to the hub in a rut.

Seorang Petani sedang mengendarai gerobaknya menyusuri jalan desa yang becek setelah hujan lebat. Kuda-kudanya nyaris tak sanggup menarik muatan itu melewati lumpur yang dalam, dan akhirnya berhenti total ketika salah satu roda terperosok hingga porosnya ke dalam lubang jalan.

The farmer climbed down from his seat and stood beside the wagon looking at it but without making the least effort to get it out of the rut. All he did was to curse his bad luck and call loudly on Hercules to come to his aid. Then, it is said, Hercules really did appear, saying:

Petani itu turun dari tempat duduknya dan berdiri di samping gerobak sambil memandanginya, tanpa berusaha sedikit pun untuk mengeluarkannya dari lubang itu. Yang ia lakukan hanyalah mengutuk nasib buruknya dan berteriak-teriak memanggil Hercules untuk datang menolongnya. Maka, konon, Hercules benar-benar muncul, berkata:

"Put your shoulder to the wheel, man, and urge on your horses. Do you think you can move the wagon by simply looking at it and whining about it? Hercules will not help unless you make some effort to help yourself."

"Sandarkan bahumu ke roda itu, Kawan, dan pacu kuda-kudamu. Apakah kau pikir bisa menggerakkan gerobak itu hanya dengan memandanginya dan meratapinya? Hercules tidak akan menolong kecuali kau sendiri berusaha untuk menolong dirimu sendiri."

And when the farmer put his shoulder to the wheel and urged on the horses, the wagon moved very readily, and soon the Farmer was riding along in great content and with a good lesson learned.

Dan ketika petani itu menyandarkan bahunya ke roda dan memacu kuda-kudanya, gerobak itu pun bergerak dengan mudah, dan tak lama kemudian sang Petani melaju dengan penuh kepuasan serta pelajaran berharga yang telah dipetiknya.

_Self help is the best help._

_Bantuan terbaik adalah bantuan diri sendiri._

_Heaven helps those who help themselves._

_Langit menolong mereka yang menolong diri sendiri._

THE KID AND THE WOLF

ANAK KAMBING DAN SERIGALA

A frisky young Kid had been left by the herdsman on the thatched roof of a sheep shelter to keep him out of harm's way. The Kid was browsing near the edge of the roof, when he spied a Wolf and began to jeer at him, making faces and abusing him to his heart's content.

Seekor anak Kambing yang lincah ditinggalkan oleh sang gembala di atas atap jerami sebuah kandang domba agar terhindar dari bahaya. Anak Kambing itu sedang merumput di dekat tepi atap, ketika ia melihat seekor Serigala dan mulai mengejeknya, membuat wajah-wajah lucu dan menghinanya sepuas hati.

"I hear you," said the Wolf, "and I haven't the least grudge against you for what you say or do. When you are up there it is the roof that's talking, not you."

"Aku dengar kau," kata Serigala, "dan aku sama sekali tidak dendam padamu atas apa yang kau katakan atau lakukan. Ketika kau berada di atas sana, yang berbicara adalah atapnya, bukan dirimu."

_Do not say anything at any time that you would not say at all times._

_Jangan pernah mengatakan sesuatu pada suatu waktu yang tidak akan kau katakan pada waktu-waktu lainnya._

THE TOWN MOUSE AND THE COUNTRY MOUSE

TIKUS KOTA DAN TIKUS DESA

A Town Mouse once visited a relative who lived in the country. For lunch the Country Mouse served wheat stalks, roots, and acorns, with a dash of cold water for drink. The Town Mouse ate very sparingly, nibbling a little of this and a little of that, and by her manner making it very plain that she ate the simple food only to be polite.

Seekor Tikus Kota suatu kali mengunjungi kerabatnya yang tinggal di desa. Untuk makan siang, Tikus Desa menghidangkan batang gandum, akar-akaran, dan biji ek, dengan seteguk air dingin sebagai minumannya. Tikus Kota makan dengan sangat berhemat, mencicipi sedikit ini dan sedikit itu, dan dengan sikapnya jelas menunjukkan bahwa ia menyantap makanan sederhana itu hanya demi kesopanan.

After the meal the friends had a long talk, or rather the Town Mouse talked about her life in the city while the Country Mouse listened. They then went to bed in a cozy nest in the hedgerow and slept in quiet and comfort until morning. In her sleep the Country Mouse dreamed she was a Town Mouse with all the luxuries and delights of city life that her friend had described for her. So the next day when the Town Mouse asked the Country Mouse to go home with her to the city, she gladly said yes.

Setelah makan, kedua sahabat itu bercakap-cakap panjang lebar, atau lebih tepatnya Tikus Kota bercerita tentang kehidupannya di kota sementara Tikus Desa mendengarkan. Mereka lalu pergi tidur di sarang yang nyaman di semak pagar dan tidur dengan tenang serta nyaman hingga pagi. Dalam tidurnya, Tikus Desa bermimpi menjadi Tikus Kota dengan segala kemewahan dan kesenangan hidup kota yang telah diceritakan sahabatnya kepadanya. Maka esok harinya ketika Tikus Kota mengajaknya pulang bersama ke kota, ia dengan senang hati menyetujuinya.

When they reached the mansion in which the Town Mouse lived, they found on the table in the dining room the leavings of a very fine banquet. There were sweetmeats and jellies, pastries, delicious cheeses, indeed, the most tempting foods that a Mouse can imagine.

Ketika mereka tiba di rumah besar tempat Tikus Kota tinggal, mereka menemukan di atas meja ruang makan sisa-sisa jamuan yang sangat mewah. Ada manisan dan agar-agar, kue-kue kering, keju-keju yang lezat, sungguh, makanan paling menggiurkan yang bisa dibayangkan seekor Tikus.

But just as the Country Mouse was about to nibble a dainty bit of pastry, she heard a Cat mew loudly and scratch at the door. In great fear the Mice scurried to a hiding place, where they lay quite still for a long time, hardly daring to breathe. When at last they ventured back to the feast, the door opened suddenly and in came the servants to clear the table, followed by the House Dog.

Namun tepat ketika Tikus Desa hendak menggigit sepotong kue kering yang lezat, ia mendengar seekor Kucing mengeong keras dan mencakar pintu. Dalam ketakutan besar kedua Tikus itu berlari mencari tempat sembunyi, di mana mereka berbaring diam sama sekali untuk waktu yang lama, hampir tak berani bernapas. Ketika akhirnya mereka berani kembali ke pesta itu, pintu tiba-tiba terbuka dan masuklah para pelayan untuk membereskan meja, diikuti oleh Anjing rumah.

The Country Mouse stopped in the Town Mouse's den only long enough to pick up her carpet bag and umbrella.

Tikus Desa hanya singgah sebentar di sarang Tikus Kota, cukup untuk mengambil tas jinjingnya dan payungnya.

"You may have luxuries and dainties that I have not," she said as she hurried away, "but I prefer my plain food and simple life in the country with the peace and security that go with it."

"Kau boleh memiliki kemewahan dan kelezatan yang tidak kumiliki," katanya sambil bergegas pergi, "tetapi aku lebih memilih makanan sederhana dan kehidupan sederhanaku di desa, dengan kedamaian dan keamanan yang menyertainya."

_Poverty with security is better than plenty in the midst of fear and uncertainty._

_Kemiskinan dengan keamanan lebih baik daripada kelimpahan di tengah ketakutan dan ketidakpastian._

THE FOX AND THE GRAPES

RUBAH DAN ANGGUR

A Fox one day spied a beautiful bunch of ripe grapes hanging from a vine trained along the branches of a tree. The grapes seemed ready to burst with juice, and the Fox's mouth watered as he gazed longingly at them.

Suatu hari seekor Rubah melihat seikat buah anggur matang yang indah tergantung dari tanaman rambat yang menjalar di dahan-dahan sebuah pohon. Buah anggur itu tampak siap meletus dengan sari buahnya, dan air liur Rubah menetes ketika ia memandanginya dengan penuh keinginan.

The bunch hung from a high branch, and the Fox had to jump for it. The first time he jumped he missed it by a long way. So he walked off a short distance and took a running leap at it, only to fall short once more. Again and again he tried, but in vain.

Seikat anggur itu tergantung dari dahan yang tinggi, dan Rubah harus melompat untuk meraihnya. Lompatan pertama, ia meleset jauh. Maka ia mundur beberapa langkah dan berlari sebelum melompat ke arahnya, namun tetap tak sampai. Berulang kali ia mencoba, tetapi sia-sia.

Now he sat down and looked at the grapes in disgust.

Kini ia duduk dan memandangi anggur itu dengan jijik.

"What a fool I am," he said. "Here I am wearing myself out to get a bunch of sour grapes that are not worth gaping for."

"Betapa bodohnya aku," katanya. "Di sinilah aku melelahkan diri untuk mendapatkan seikat anggur masam yang bahkan tidak layak untuk dipandangi."

And off he walked very, very scornfully.

Dan ia pun pergi dengan sangat, sangat merendahkan.

_There are many who pretend to despise and belittle that which is beyond their reach._

_Banyak orang yang berpura-pura meremehkan dan merendahkan sesuatu yang berada di luar jangkauan mereka._

Open in the Storyteller app Get it on Google Play