Storyteller

The Giant Who Had No Heart in His Body

A free B1-level English story for language learners, readable online in 7 languages, with an option to listen via the free Storyteller app.

Level
B1
Genres
adventure, fairy-tale
Reading time
14 min
Languages available
EN, VI, ES, ZH, PT, HI, ID
The Giant Who Had No Heart in His Body cover

A prince searches a giant's castle for the one hidden thing that can undo his brothers' fate — a heart the giant doesn't even keep inside himself.

Once on a time there was a king who had seven sons, and he loved them so much that he could never bear to be without them all at once, but one must always be with him. Now, when they were grown up, six were to set off to woo, but as for the youngest, his father kept him at home, and the others were to bring back a princess for him to the palace. So the king gave the six the finest clothes you ever set eyes on, so fine that the light gleamed from them a long way off, and each had his horse, which cost many, many hundred dollars, and so they set off.

Pada suatu masa hiduplah seorang raja yang mempunyai tujuh orang putra, dan ia begitu mencintai mereka sehingga tak pernah tahan berpisah dari mereka semua sekaligus, tetapi selalu ada satu yang harus tinggal bersamanya. Nah, ketika mereka sudah dewasa, enam di antaranya akan berangkat melamar, tetapi si bungsu ditahan ayahnya di rumah, dan yang lain akan membawa pulang seorang putri untuknya ke istana. Maka raja memberi keenam putranya pakaian terindah yang pernah kau lihat, begitu indah sehingga cahayanya berkilau dari jauh, dan masing-masing mendapat kuda yang harganya beratus-ratus dolar, lalu mereka pun berangkat.

Now, when they had been to many palaces, and seen many princesses, at last they came to a king who had six daughters; such lovely king’s daughters they had never seen, and so they fell to wooing them, each one, and when they had got them for sweethearts, they set off home again, but they quite forgot that they were to bring back with them a sweetheart for Boots, their brother, who stayed at home, for they were over head and ears in love with their own sweethearts.

Nah, setelah mengunjungi banyak istana dan melihat banyak putri, akhirnya mereka tiba di istana seorang raja yang mempunyai enam putri; putri-putri secantik itu belum pernah mereka lihat, maka mereka pun melamar masing-masing, dan setelah mendapatkan kekasih mereka, mereka berangkat pulang, tetapi mereka sama sekali lupa bahwa mereka seharusnya membawa pulang seorang kekasih untuk Boots, adik mereka yang tinggal di rumah, karena mereka terlalu dimabuk cinta oleh kekasih mereka sendiri.

But when they had gone a good bit on their way, they passed close by a steep hill-side, like a wall, where the giant’s house was, and there the giant came out, and set his eyes upon them, and turned them all into stone, princes and princesses and all. Now the king waited and waited for his six sons, but the more he waited, the longer they stayed away; so he fell into great trouble, and said he should never know what it was to be glad again.

Tetapi ketika mereka sudah menempuh perjalanan cukup jauh, mereka melewati sebuah lereng bukit yang curam, seperti tembok, tempat rumah raksasa berada, dan raksasa itu keluar, menatap mereka, lalu mengubah mereka semua menjadi batu, pangeran dan putri sekaligus. Maka sang raja menunggu dan menunggu keenam putranya, tetapi makin lama ia menunggu, makin lama pula mereka tak kunjung pulang; hingga ia jatuh dalam kesedihan besar, dan berkata ia tak akan pernah lagi tahu rasanya bergembira.

“And if I had not you left”, he said to Boots, “I would live no longer, so full of sorrow am I for the loss of your brothers.”

"Dan seandainya engkau tidak kutinggalkan," katanya kepada Boots, "aku tak mau hidup lebih lama lagi, begitu dalam duka aku karena kehilangan saudara-saudaramu."

“Well, but now I’ve been thinking to ask your leave to set out and find them again; that’s what I’m thinking of”, said Boots.

"Nah, aku sudah berpikir untuk meminta izinmu berangkat mencari mereka kembali; itulah yang sedang kupikirkan," kata Boots.

“Nay, nay!” said his father; “that leave you shall never get, for then you would stay away too.”

"Tidak, tidak!" kata ayahnya; "izin itu tak akan pernah kauperoleh, sebab nanti engkau pun akan pergi dan tak kembali."

But Boots had set his heart upon it; go he would; and he begged and prayed so long that the king was forced to let him go. Now, you must know the king had no other horse to give Boots but an old broken-down jade, for his six other sons and their train had carried off all his horses; but Boots did not care a pin for that, he sprang up on his sorry-old-steed.

Tetapi Boots telah bertekad bulat; ia ingin pergi; dan ia memohon serta merengek begitu lama sehingga raja terpaksa mengizinkannya pergi. Nah, perlu diketahui, raja tidak punya kuda lain untuk diberikan kepada Boots selain seekor kuda tua yang sudah reyot, sebab keenam putranya yang lain beserta rombongan mereka telah membawa semua kudanya; tetapi Boots tidak peduli sama sekali, ia langsung melompat naik ke atas kuda tuanya yang menyedihkan itu.

“Farewell, father”, said he; “I’ll come back, never fear, and like enough I shall bring my six brothers back with me”; and with that he rode off.

"Selamat tinggal, Ayah," katanya; "aku akan kembali, jangan khawatir, dan besar kemungkinan aku akan membawa pulang keenam kakakku bersamaku"; dan dengan itu ia pun menunggang kuda pergi.

So, when he had ridden a while, he came to a Raven, which lay in the road and flapped its wings, and was not able to get out of the way, it was so starved.

Maka, setelah menunggang kuda beberapa lama, ia bertemu seekor Gagak yang tergeletak di jalan sambil mengepakkan sayapnya, tidak mampu menyingkir, sebab begitu kelaparan.

“Oh, dear friend”, said the Raven, “give me a little food, and I’ll help you again at your utmost need.”

"Oh, sahabat baik," kata Gagak itu, "berilah aku sedikit makanan, dan aku akan menolongmu lagi di saat kau paling membutuhkan."

“I haven’t much food”, said the Prince, “and I don’t see how you’ll ever be able to help me much; but still I can spare you a little. I see you want it.”

"Aku tidak punya banyak makanan," kata Sang Pangeran, "dan aku tidak tahu bagaimana engkau bisa banyak menolongku; tetapi aku masih bisa menyisihkan sedikit untukmu. Aku lihat engkau memerlukannya."

So he gave the raven some of the food he had brought with him.

Maka ia pun memberi gagak itu sebagian makanan yang dibawanya.

Now, when he had gone a bit further, he came to a brook, and in the brook lay a great Salmon, which had got upon a dry place and dashed itself about, and could not get into the water again.

Nah, setelah berjalan sedikit lebih jauh lagi, ia sampai di sebuah anak sungai, dan di dalamnya terdapat seekor Ikan Salmon besar, yang telah terdampar di tempat kering dan menggelepar-gelepar, tak mampu kembali ke air.

“Oh, dear friend”, said the Salmon to the Prince; “shove me out into the water again, and I’ll help you again at your utmost need.”

"Oh, sahabat baik," kata Ikan Salmon itu kepada Sang Pangeran; "doronglah aku kembali ke air, dan aku akan menolongmu lagi di saat kau paling membutuhkan."

“Well!” said the Prince, “the help you’ll give me will not be great, I daresay, but it’s a pity you should lie there and choke”; and with that he shot the fish out into the stream again.

"Baiklah!" kata Sang Pangeran, "pertolongan yang bisa kauberikan mungkin tidak besar, kurasa, tetapi sayang sekali jika engkau tergeletak di situ dan tercekik"; dan dengan itu ia mendorong ikan itu kembali ke aliran sungai.

After that he went a long, long way, and there met him a Wolf, which was so famished that it lay and crawled along the road on its belly.

Setelah itu ia berjalan jauh, jauh sekali, dan di sana ia bertemu seekor Serigala, yang begitu kelaparan hingga merangkak di jalan dengan perutnya.

“Dear friend, do let me have your horse”, said the Wolf; “I’m so hungry the wind whistles through my ribs; I’ve had nothing to eat these two years.”

"Sahabat baik, izinkan aku memiliki kudamu," kata Serigala itu; "aku begitu lapar sampai angin bersiul menembus tulang rusukku; aku belum makan apa pun selama dua tahun ini."

“No”, said Boots, “this will never do; “first I came to a raven, and I was forced to give him my food; next I came to a salmon, and him I had to help into the water again; and now you will have my horse. It can’t be done, that it can’t, for then I should have nothing to ride on.”

"Tidak," kata Boots, "ini tidak boleh terjadi; pertama aku bertemu seekor gagak, dan aku terpaksa memberinya makananku; lalu aku bertemu seekor salmon, dan aku harus menolongnya kembali ke air; dan sekarang engkau menginginkan kudaku. Itu tidak bisa, sungguh tidak bisa, sebab nanti aku tak punya apa pun untuk kutunggangi."

“Nay, dear friend, but you can help me”, said Graylegs the wolf; “you can ride upon my back, and I’ll help you again in your utmost need.”

"Tidak, sahabat baik, tetapi engkau bisa menolongku," kata Kaki Kelabu si serigala; "engkau bisa menunggangi punggungku, dan aku akan menolongmu lagi di saat kau paling membutuhkan."

“Well! the help I shall get from you will not be great, I’ll be bound”, said the Prince; “but you may take my horse, since you are in such need.”

"Baiklah! pertolongan yang akan kudapat darimu mungkin tidak besar, aku yakin," kata Sang Pangeran; "tetapi ambillah kudaku, karena engkau begitu memerlukannya."

So when the wolf had eaten the horse, Boots took the bit and put it into the wolf’s jaw, and laid the saddle on his back; and now the wolf was so strong, after what he had got inside, that he set off with the Prince like nothing. So fast he had never ridden before.

Maka setelah serigala itu memakan kuda tersebut, Boots memasangkan kekang ke dalam rahang serigala itu, dan meletakkan pelana di punggungnya; dan kini serigala itu menjadi begitu kuat, setelah apa yang dimakannya, sehingga ia melesat membawa Sang Pangeran secepat kilat. Secepat itu ia belum pernah menunggang sebelumnya.

“When we have gone a bit farther”, said Graylegs; “I’ll show you the Giant’s house.”

"Setelah kita berjalan sedikit lagi," kata Kaki Kelabu; "aku akan menunjukkan kepadamu rumah Sang Raksasa."

So after a while they came to it.

Maka setelah beberapa lama sampailah mereka di sana.

“See, here is the Giant’s house”, said the Wolf; “and see, here are your six brothers, whom the Giant has turned into stone; and see here are their six brides, and away yonder is the door, and in at that door you must go.”

"Lihat, inilah rumah Sang Raksasa," kata Serigala; "dan lihat, inilah keenam kakakmu, yang telah diubah oleh Raksasa menjadi batu; dan lihat, inilah keenam calon istri mereka, dan di sana jauh itu ada pintunya, dan melalui pintu itu engkau harus masuk."

“Nay, but I daren’t go in”, said the Prince; “he’ll take my life.”

"Tidak, aku tidak berani masuk," kata Sang Pangeran; "ia akan merenggut nyawaku."

“No! no!” said the Wolf; “when you get in you’ll find a Princess, and she’ll tell you what to do to make an end of the Giant. Only mind and do as she bids you.”

"Tidak! tidak!" kata Serigala; "begitu engkau masuk, engkau akan menemukan seorang Putri, dan ia akan memberitahumu apa yang harus dilakukan untuk mengalahkan Raksasa itu. Hanya saja ingatlah untuk menuruti apa yang dikatakannya."

Well! Boots went in, but, truth to say, he was very much afraid. When he came in the Giant was away, but in one of the rooms sat the Princess, just as the wolf had said, and so lovely a princess Boots had never yet set eyes on.

Baiklah! Boots pun masuk, tetapi sejujurnya ia sangat ketakutan. Ketika ia masuk, Raksasa sedang pergi, tetapi di salah satu kamar duduklah Sang Putri, persis seperti yang dikatakan serigala, dan seindah itulah putri yang belum pernah dilihat Boots sebelumnya.

“Oh! heaven help you! whence have you come?” said the Princess, as she saw him; “it will surely be your death. No one can make an end of the Giant who lives here, for he has no heart in his body.”

"Oh! semoga surga menolongmu! dari mana engkau datang?" kata Sang Putri, saat melihatnya; "ini pasti akan menjadi kematianmu. Tak seorang pun bisa mengalahkan Raksasa yang tinggal di sini, sebab ia tidak menyimpan jantung di dalam tubuhnya."

“Well! well!” said Boots; “but now that I am here, I may as well try what I can do with him; and I will see if I can’t free my brothers, who are standing turned to stone out of doors; and you, too, I will try to save, that I will.”

"Baiklah! baiklah!" kata Boots; "tetapi sekarang aku sudah di sini, aku bisa saja mencoba apa yang bisa kulakukan terhadapnya; dan aku akan melihat apakah aku bisa membebaskan kakak-kakakku, yang berdiri membeku menjadi batu di luar sana; dan engkau juga, akan kucoba menyelamatkanmu, itu pasti."

“Well, if you must, you must”, said the Princess; “and so let us see if we can’t hit on a plan. Just creep under the bed yonder, and mind and listen to what he and I talk about. But, pray, do lie as still as a mouse.”

"Baiklah, jika engkau memang harus, maka harus," kata Sang Putri; "mari kita lihat apakah kita bisa menemukan sebuah rencana. Bersembunyilah di bawah ranjang itu, dan ingatlah untuk mendengarkan apa yang kami bicarakan. Tetapi, kumohon, berbaringlah setenang tikus."

So he crept under the bed, and he had scarce got well underneath it, before the Giant came.

Maka ia bersembunyi di bawah ranjang, dan begitu ia baru saja berhasil bersembunyi di bawahnya, Sang Raksasa pun datang.

“Ha!” roared the Giant, “what a smell of Christian blood there is in the house!”

"Ha!" raung Sang Raksasa, "bau darah manusia begitu menyengat di rumah ini!"

“Yes, I know there is”, said the Princess, “for there came a magpie flying with a man’s bone, and let it fall down the chimney. I made all the haste I could to get it out, but all one can do, the smell doesn’t go off so soon.”

"Ya, aku tahu itu," kata Sang Putri, "sebab tadi ada seekor murai terbang membawa tulang manusia, dan menjatuhkannya lewat cerobong asap. Aku sudah buru-buru mengeluarkannya, tetapi bagaimanapun juga, baunya tak cepat hilang."

So the Giant said no more about it, and when night came, they went to bed. After they had lain awhile, the Princess said:

Maka Sang Raksasa tak berkata apa-apa lagi soal itu, dan ketika malam tiba, mereka pun pergi tidur. Setelah berbaring beberapa saat, Sang Putri berkata:

“There is one thing I’d be so glad to ask you about, if I only dared.”

"Ada satu hal yang ingin sekali kutanyakan kepadamu, jika saja aku berani."

“What thing is that?” asked the Giant.

"Hal apa itu?" tanya Sang Raksasa.

“Only where it is you keep your heart, since you don’t carry it about you”, said the Princess.

"Hanya di mana engkau menyimpan jantungmu, karena engkau tidak membawanya ke mana-mana," kata Sang Putri.

“Ah! that’s a thing you’ve no business to ask about; but if you must know, it lies under the door-sill”, said the Giant.

"Ah! itu bukan urusanmu untuk ditanyakan; tetapi jika engkau harus tahu, jantungku ada di bawah ambang pintu," kata Sang Raksasa.

“Ho! ho!” said Boots to himself under the bed, “then we’ll soon see if we can’t find it.”

"Ho! ho!" kata Boots dalam hati di bawah ranjang, "kalau begitu kita akan segera lihat apakah kita bisa menemukannya."

Next morning the Giant got up cruelly early, and strode off to the wood; but he was hardly out of the house before Boots and the Princess set to work to look under the door-sill for his heart; but the more they dug, and the more they hunted, the more they couldn’t find it.

Keesokan paginya Sang Raksasa bangun sangat pagi, lalu melangkah pergi ke hutan; tetapi begitu ia keluar rumah, Boots dan Sang Putri langsung bekerja mencari jantungnya di bawah ambang pintu; tetapi makin dalam mereka menggali, dan makin keras mereka mencari, makin mereka tak bisa menemukannya.

“He has baulked us this time”, said the Princess, “but we’ll try him once more.”

"Ia telah mengecoh kita kali ini," kata Sang Putri, "tetapi kita akan mencobanya sekali lagi."

So she picked all the prettiest flowers she could find, and strewed them over the door-sill, which they had laid in its right place again; and when the time came for the Giant to come home again, Boots crept under the bed. Just as he was well under, back came the Giant.

Maka ia memetik semua bunga tercantik yang bisa ditemukannya, dan menaburkannya di atas ambang pintu, yang telah mereka pasang kembali pada tempatnya semula; dan ketika tiba waktunya Sang Raksasa pulang, Boots bersembunyi lagi di bawah ranjang. Begitu ia baru saja bersembunyi, Sang Raksasa pun kembali.

Snuff—snuff, went the Giant’s nose. “My eyes and limbs, what a smell of Christian blood there is in here”, said he.

Endus—endus, begitu bunyi hidung Sang Raksasa. "Mataku dan tubuhku, bau darah manusia begitu menyengat di sini," katanya.

“I know there is”, said the Princess, “for there came a magpie flying with a man’s bone in his bill, and let it fall down the chimney. I made as much haste as I could to get it out, but I daresay it’s that you smell.”

"Aku tahu itu," kata Sang Putri, "sebab tadi ada seekor murai terbang membawa tulang manusia di paruhnya, dan menjatuhkannya lewat cerobong asap. Aku sudah buru-buru mengeluarkannya, tetapi kurasa itulah yang kaucium."

So the Giant held his peace, and said no more about it. A little while after, he asked who it was that had strewed flowers about the door-sill.

Maka Sang Raksasa berdiam diri, tak berkata apa-apa lagi soal itu. Tak lama kemudian, ia bertanya siapa yang telah menaburkan bunga di ambang pintu.

“Oh, I, of course”, said the Princess.

"Oh, aku, tentu saja," kata Sang Putri.

“And, pray, what’s the meaning of all this?” said the Giant.

"Dan, boleh kutanya, apa maksud semua ini?" kata Sang Raksasa.

“Ah!” said the Princess, “I’m so fond of you that I couldn’t help strewing them, when I knew that your heart lay under there.”

"Ah!" kata Sang Putri, "aku begitu menyayangimu sehingga tak bisa menahan diri untuk menaburkannya, ketika aku tahu bahwa jantungmu ada di bawah situ."

“You don’t say so”, said the Giant; “but after all it doesn’t lie there at all.”

"Sungguh?" kata Sang Raksasa; "tetapi sebenarnya jantungku sama sekali tidak ada di situ."

So when they went to bed again in the evening, the Princess asked the Giant again where his heart was, for she said she would so like to know.

Maka ketika mereka pergi tidur lagi malam itu, Sang Putri kembali bertanya kepada Sang Raksasa di mana jantungnya, sebab katanya ia sangat ingin tahu.

“Well”, said the Giant, “if you must know, it lies away yonder in the cupboard against the wall.”

"Baiklah," kata Sang Raksasa, "jika engkau harus tahu, jantungku ada jauh di sana, di lemari yang menempel di dinding."

“So, so!” thought Boots and the Princess; “then we’ll soon try to find it.”

"Begitu, begitu!" pikir Boots dan Sang Putri; "kalau begitu kita akan segera mencoba mencarinya."

Next morning the Giant was away early, and strode off to the wood, and so soon as he was gone Boots and the Princess were in the cupboard hunting for his heart, but the more they sought for it, the less they found it.

Keesokan paginya Sang Raksasa pergi pagi-pagi sekali, melangkah ke hutan, dan begitu ia pergi, Boots dan Sang Putri langsung mencari-cari di lemari, mencari jantungnya, tetapi makin keras mereka mencari, makin sedikit yang mereka temukan.

“Well”, said the Princess, “we’ll just try him once more.”

"Baiklah," kata Sang Putri, "kita akan mencobanya sekali lagi."

So she decked out the cupboard with flowers and garlands, and when the time came for the Giant to come home, Boots crept under the bed again.

Maka ia menghias lemari itu dengan bunga dan karangan bunga, dan ketika tiba waktunya Sang Raksasa pulang, Boots kembali bersembunyi di bawah ranjang.

Then back came the Giant.

Kemudian Sang Raksasa pun kembali.

Snuff-snuff! “My eyes and limbs, what a smell of Christian blood there is in here!”

Endus-endus! "Mataku dan tubuhku, bau darah manusia begitu menyengat di sini!"

“I know there is”, said the Princess; “for a little while since there came a magpie flying with a man’s bone in his bill, and let it fall down the chimney. I made all the haste I could to get it out of the house again; but after all my pains, I daresay it’s that you smell.”

"Aku tahu itu," kata Sang Putri; "sebab tak lama tadi ada seekor murai terbang membawa tulang manusia di paruhnya, dan menjatuhkannya lewat cerobong asap. Aku sudah buru-buru mengeluarkannya dari rumah lagi; tetapi setelah semua usahaku, kurasa itulah yang kaucium."

When the Giant heard that, he said no more about it; but a little while after, he saw how the cupboard was all decked about with flowers and garlands; so he asked who it was that had done that? Who could it be but the Princess.

Ketika Sang Raksasa mendengar itu, ia tak berkata apa-apa lagi; tetapi tak lama kemudian, ia melihat bagaimana lemari itu dihias penuh dengan bunga dan karangan bunga; maka ia bertanya siapa yang telah melakukannya? Siapa lagi kalau bukan Sang Putri.

“And, pray, what’s the meaning of all this tom-foolery?” asked the Giant.

"Dan, boleh kutanya, apa maksud semua kekonyolan ini?" tanya Sang Raksasa.

“Oh, I’m so fond of you, I couldn’t help doing it when I knew that your heart lay there”, said the Princess.

"Oh, aku begitu menyayangimu, aku tak bisa menahan diri untuk melakukannya ketika aku tahu jantungmu ada di situ," kata Sang Putri.

“How can you be so silly as to believe any such thing?” said the Giant.

"Bagaimana bisa engkau begitu bodoh mempercayai hal semacam itu?" kata Sang Raksasa.

“Oh yes; how can I help believing it, when you say it”, said the Princess.

"Oh ya; bagaimana aku bisa tidak mempercayainya, jika engkau sendiri yang mengatakannya," kata Sang Putri.

“You’re a goose”, said the Giant; “where my heart is, you will never come.”

"Engkau ini bebek dungu," kata Sang Raksasa; "tempat jantungku berada, engkau tak akan pernah sampai ke sana."

“Well”, said the Princess;” but for all that, ’twould be such a pleasure to know where it really lies.”

"Baiklah," kata Sang Putri; "tetapi bagaimanapun juga, alangkah menyenangkannya mengetahui di mana sebenarnya jantung itu berada."

Then the poor Giant could hold out no longer, but was forced to say:

Maka Sang Raksasa yang malang itu tak tahan lagi, dan terpaksa berkata:

“Far, far away in a lake lies an island; on that island stands a church; in that church is a well; in that well swims a duck; in that duck there is an egg, and in that egg there lies my heart,—you darling!”

"Jauh, jauh sekali di sebuah danau ada sebuah pulau; di pulau itu berdiri sebuah gereja; di gereja itu ada sebuah sumur; di sumur itu berenang seekor bebek; di dalam bebek itu ada sebutir telur, dan di dalam telur itulah jantungku berada,—sayangku!"

In the morning early, while it was still grey dawn, the Giant strode off to the wood.

Pagi-pagi sekali, ketika fajar masih kelabu, Sang Raksasa melangkah pergi ke hutan.

“Yes! now I must set off too”, said Boots; “if I only knew how to find the way.” He took a long, long farewell of the Princess, and when he got out of the Giant’s door, there stood the Wolf waiting for him. So Boots told him all that had happened inside the house, and said now he wished to ride to the well in the church, if he only knew the way. So the Wolf bade him jump on his back, he’d soon find the way; and away they went, till the wind whistled after them, over hedge and field, over hill and dale. After they had travelled many, many days, they came at last to the lake.

"Ya! sekarang aku juga harus berangkat," kata Boots; "andai saja aku tahu bagaimana menemukan jalannya." Ia mengucapkan selamat tinggal yang panjang, panjang sekali kepada Sang Putri, dan ketika ia keluar dari pintu Sang Raksasa, di sana sudah berdiri Serigala menunggunya. Maka Boots pun menceritakan kepadanya semua yang telah terjadi di dalam rumah, dan berkata sekarang ia ingin pergi ke sumur di gereja itu, andai saja ia tahu jalannya. Maka Serigala menyuruhnya melompat ke punggungnya, ia akan segera menemukan jalannya; dan pergilah mereka, hingga angin bersiul di belakang mereka, melewati pagar dan ladang, melewati bukit dan lembah. Setelah menempuh perjalanan berhari-hari, akhirnya sampailah mereka di danau itu.

Then the Prince did not know how to get over it, but the Wolf bade him only not be afraid, but stick on, and so he jumped into the lake with the Prince on his back, and swam over to the island. So they came to the church; but the church keys hung high, high up on the top of the tower, and at first the Prince did not know how to get them down.

Maka Sang Pangeran tidak tahu bagaimana harus menyeberanginya, tetapi Serigala menyuruhnya untuk tidak takut saja, tetap berpegangan erat, maka ia pun melompat ke danau bersama Sang Pangeran di punggungnya, dan berenang menyeberang ke pulau itu. Maka sampailah mereka di gereja; tetapi kunci gereja tergantung tinggi, tinggi sekali di puncak menara, dan mulanya Sang Pangeran tidak tahu bagaimana menurunkannya.

“You must call on the raven”, said the Wolf.

"Engkau harus memanggil gagak itu," kata Serigala.

So the Prince called on the raven, and in a trice the raven came, and flew up and fetched the keys, and so the Prince got into the church. But when he came to the well, there lay the duck, and swam about backwards and forwards, just as the Giant had said. So the Prince stood and coaxed it and coaxed it, till it came to him, and he grasped it in his hand; but just as he lifted it up from the water the duck dropped the egg into the well, and then Boots was beside himself to know how to get it out again.

Maka Sang Pangeran memanggil gagak itu, dan dalam sekejap gagak itu pun datang, terbang naik dan mengambil kunci itu, dan begitulah Sang Pangeran bisa masuk ke gereja. Tetapi ketika ia sampai di sumur, di sana ada bebek itu, berenang bolak-balik, persis seperti yang dikatakan Sang Raksasa. Maka Sang Pangeran berdiri dan membujuknya terus-menerus, hingga bebek itu mendekatinya, dan ia menangkapnya dengan tangannya; tetapi tepat ketika ia mengangkatnya dari air, bebek itu menjatuhkan telur ke dalam sumur, dan Boots pun kebingungan bagaimana harus mengeluarkannya kembali.

“Well, now you must call on the salmon to be sure”, said the Wolf; and the king’s son called on the salmon, and the salmon came and fetched up the egg from the bottom of the well.

"Nah, sekarang engkau harus memanggil ikan salmon itu, tentu saja," kata Serigala; dan sang putra raja pun memanggil ikan salmon itu, dan ikan salmon itu datang lalu mengambil telur dari dasar sumur.

Then the Wolf told him to squeeze the egg, and as soon as ever he squeezed it the Giant screamed out.

Kemudian Serigala menyuruhnya meremas telur itu, dan begitu ia meremasnya, Sang Raksasa pun menjerit.

“Squeeze it again”, said the Wolf; and when the Prince did so, the Giant screamed still more piteously, and begged and prayed so prettily to be spared, saying he would do all that the Prince wished if he would only not squeeze his heart in two.

"Remas lagi," kata Serigala; dan ketika Sang Pangeran melakukannya, Sang Raksasa menjerit lebih keras lagi penuh iba, dan memohon serta merengek begitu memelas agar dilepaskan, sambil berkata ia akan melakukan apa saja yang diinginkan Sang Pangeran asalkan jangan sampai jantungnya diremas hingga pecah.

“Tell him, if he will restore to life again your six brothers and their brides, whom he has turned to stone, you will spare his life”, said the Wolf. Yes, the Giant was ready to do that, and he turned the six brothers into king’s sons again, and their brides into king’s daughters.

"Katakan kepadanya, jika ia mau menghidupkan kembali keenam kakakmu dan calon istri mereka, yang telah diubahnya menjadi batu, engkau akan membiarkannya hidup," kata Serigala. Ya, Sang Raksasa siap melakukannya, dan ia pun mengubah keenam kakak itu kembali menjadi putra-putra raja, dan calon-calon istri mereka kembali menjadi putri-putri raja.

“Now, squeeze the egg in two”, said the Wolf. So Boots squeezed the egg to pieces, and the Giant burst at once.

"Sekarang, remas telur itu hingga pecah," kata Serigala. Maka Boots pun meremas telur itu hingga hancur, dan Sang Raksasa langsung meledak.

Now, when he had made an end of the Giant, Boots rode back again on the wolf to the Giant’s house, and there stood all his six brothers alive and merry, with their brides. Then Boots went into the hill-side after his bride, and so they all set off home again to their father’s house. And you may fancy how glad the old king was when he saw all his seven sons come back, each with his bride—“But the loveliest bride of all is the bride of Boots, after all”, said the king, “and he shall sit uppermost at the table, with her by his side.”

Nah, setelah membereskan Sang Raksasa, Boots menunggang serigala kembali ke rumah Sang Raksasa, dan di sana berdirilah keenam kakaknya, hidup dan riang gembira, bersama calon istri mereka. Kemudian Boots pergi ke lereng bukit mencari calon istrinya sendiri, dan mereka semua pun berangkat pulang ke rumah ayah mereka. Dan bisa kaubayangkan betapa senangnya sang raja tua itu ketika melihat ketujuh putranya kembali, masing-masing dengan calon istrinya—"Tetapi calon istri terindah dari semuanya adalah calon istri Boots, bagaimanapun juga," kata sang raja, "dan ia akan duduk di tempat paling terhormat di meja, dengan calon istrinya di sisinya."

So he sent out, and called a great wedding-feast, and the mirth was both loud and long, and if they have not done feasting, why, they are still at it.

Maka ia pun mengutus orang, dan mengadakan pesta pernikahan yang meriah, dan kegembiraan itu berlangsung riuh dan lama, dan jika mereka belum selesai berpesta, ya, mereka pun masih berpesta hingga sekarang.

Open in the Storyteller app Get it on Google Play